10 Juli 2008

Kegiatan

Term of Reference (TOR) Latihan Kader II (Intermediate Training)
HMI MPO Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Mewujudkan Kader Intelektual Progresif
Dalam Penegakan Hukum
yang Berkeadilan


Mengapa anak anak Adam berbangga diri?
Sesungguhnya permulaannya adalah sperma
dan pada akhirnya adalah bangkai
(Imam Ali bin Abi Thalib)


Para cendekiawan kita telah banyak sekali mengkaji terhadap apa makna kata dari intelektual. Al Qur’an pun dengan jelas jelas menerangkannya dengan sebutan sebagai Ulil Albab. Dawam Raharjo dalam bukunya yang berjudul Enksiklopedi Al Qur’an mengkombinasikannya dengan kata ulu al-amr, yang artinya orang memiliki atau orang memegang urusan. Jalaluddin Rahmat menerjemahkannya lebih sederhana dengan sebutan intelektual plus atau dalam terjemahan Inggris, the men of wisdom and understanding.

Seorang alumnus universitas Sorbonne di Francis, sekaligus think-tank revolusi Islam di Iran bernama Ali Syari’ati, pernah membedah secara khusus intelektual. Singkatnya, intelektual itu terbagi menjadi dua kategori. Pertama kaum intelektual itu sendiri.
Dan yang kedua, pemikir-pemikir yang tercerahkan (rausyanfikr). Kaum yang pertama hanyalah sekedar memanfaatkan pengetahuan teoritis dan praktis mereka. Waktu mereka telah banyak dihabiskan di atas dinding-dinding laboratorium penelitian kampus, disibukkan dengan urusan gelar kehormatan doktoral, seolah tidak bisa tersentuh selain dari kaum akademisi sendiri. Hidupnya bergerak disana saja tetapi tidak punya kepedulian dengan perubahan sosial yang berada di sekitarnya.

Adapun yang kedua, mereka bertanggung jawab penuh terhadap keadaan sosial masyarakatnya. Mereka mengetahui betul kebutuhan-kebuthan masyarakat dan berani hidup bersama masyarakat dan berjuang bersama membangunkan masyarakat dari tidur nyenyaknya untuk menyadarkan atas setiap kebodohan, penindasan yang terjadi. Mereka bersedia mengorbankan harta dan jiwanya dalam pembaharuan dan perbaikan sosial masyarakat yang terjadi. Orang-orang ikhlas demikian ini, berserah diri kepada Allah atas setiap hasil perjuangannya. Orang ini layaknya pernah diungkapkan oleh nabi Su’aib a.s. “Aku hanya menghendaki perbaikan semampuku, tiada keberhasilan kecuali pertolongan Allah. Kepada-Nya aku berserah diri dan kepadanya pula aku akan kembali”. (Al Qur’an XI:88). Kelompok kedua inilah yang sekarang ini layak disebut sebagai nabi-nabi sosial. Maksudnya, mewarisi tugas-tugas kenabian.

Sejalan dengan ini, HMI yang khittah perjuangannya membentuk kader insan Ulil Albab, maka sudah menjadi kewajiban dan sekaligus tanggung jawabnya untuk tidak pernah berhenti. Paling tidak, mampu mencerahkan sesama kader ataupun sedikit lebih luas, berguna bagi masyarakat indonesia.

Nah, sekarang, mari kita membaca realitas negara Indonesia. Semboyan Bung Karno yang dengan penuh semangat membakar rakyat agar rakyat mampu Berdikari (berdiri di kaki sendiri). Dalam artian, mari kita lepas dari cengkraman kapatalisme. Kita dengan secara kasat mata saja sudah bisa melihat bagaiman kapitalisme berhasil merajai perekonomian kita. Di daerah Malioboro saja, penduduk lokal menjajakan barang-barangnya buatan produk dalam negeri, harganya relatif terjangkau. Bandingkanlah dengan bangunan-bangunan besar yang berada di sekelilingnya. Isinya berbagai macam barang-barang impor, dimana untuk penghasilan masyarakat indonesia kebanyakan (ditambah lagi setelah naiknya BBM), hampir mustahil mampu membelinya. Telah terjadi sebuah jurang yang sangat lebar antara para pedagang kecil dengan gedung-gedung tinggi yang mengelilinginya. Itu berarti produk asing lebih mempunyai tempat yang lebih terhormat dibandingkan produk dalam negeri. Padahal kita berada di negeri sendiri.

Masuknya kekuatan modal besar ke negeri kita, tidak dengan serta merta begitu saja terjadi. Terdapat kesepakatan perekonomian yang harmoni antara pemimpin kita dan para kapitalis dunia yang dimotori oleh Amerika Serikat, berjubah IMF (bentuk lain dari VOC pada zaman penjajahan Belanda). selain itu, polisi dunia ini pun menakut-nakuti alias mepropagandakan ancaman yang sudah sangat populer menyebar ke seluruh dunia, apakah bersedia ikut dengan Amerika atau tergolongkan sebagai teroris. (either with us or you are the terrorist).

Apakah sikap para pemimpin kita? Meraka bukan lagi seolah tidak mempunyai pilihan melainkan mengikiti pilihan yang telah ditentukan, menyepakati berbagai macam tawaran. Selain Amerika berhasil mempertahankan perusahaan-perusahaan besarnya di Indonesia, merampok sumber daya alam tapi sebagian kecil diberikan ke Indonesia (itu pun lebih banyak jatuh ke tangan-tangan para koruptor), Amerika tidak segan membenturkan sesama negara-negara yang mayoritas masyarakatnya muslim. Irak, Iran adalah contoh negara-negara poros setan (axis of evil). Indonesia yang sebenarnya sebagai negara ke empat tersebar dunia (China, India, Amerika dan Indonesia) di alam semesta ini tidak punya nyali (atau barangkali belum bernyali) untuk sekedar membangun logika intelektual perlawanan terhadap kapitalisme Amerika sebagaimana yang telah dilakukan oleh Presiden Iran, Ahmadinejad.

Menarik untuk melirik logika Ahmadinejad yang tampil percaya diri di tengah kepungan koalisi negara adidaya. Ahmadinejad mengisyaratkan bahwa sebenarnya Amerika melarang negara-negara berkembang untuk menguasai ilmu pengetahuan dan sains. Dalam ayat Al-Qur’an yang pertama turun, iqra (bacalah). Jadi, mencari pengetahuan adalah wajib hukumnya. Seseorang atau bangsa yang hendak maju, sederajat dengan bangsa-bangsa lainnya haruslah menguasai ilmu pengetahuan dan sains. Mereka saja yang hendak menguasai ilmu pengetahuan,sains dan segala macam hal. Itulah mengapa mereka selalu berdalih bahwa apabila Iran mengendalikan nuklir maka akan sangat mengancam keamanan dunia. Tetapi mengapa kapitalis Amerika tetap menyimpan nuklir? Sedangkan di Iran sendiri, petugas IAEA, menyatakan tidaka ada bukti bahwa negara itu hendak menggunakannya untuk kebutuhan perang. Iran hanya menggunakannya pembangkit listrik yang harganya jauh lebih murah.

Kritik tajam pun dilancarkan oleh Amien Rais dalam buku terbarunya berjudul Selamatkan Indonesia. Dalam buku itu. Amien mengutip pidato Mahathir Muhammad sewaktu di Jakarta: “Neo kolonialisme bukanlah istilah khayalan yang diciptakan oleh Presiden Soekarno. Ia (neokolonialisme) itu nyata. Kita merasakannya takkala kita hidup berada di bawah kontrol agen-agen yang dikendalikan oleh mantan penjajah kita. (Neo-colonialism is not a fancy term carried by President Soekarno. It’s real. We feel it as we come under the control of agencies owned colonial master).

Hal yang menarik disini ialah bahwa sebenarnya Amien hendak mengingatkan bahwa suatu negara semestinya benar-benar merdeka dan berdaulat sebagiamana yang termaktub dalam terks proklamasi. Namun karena cara berpikir (mindset) yang masih bermental budak (inlander)—wariskan Belanda. Masih mengutip buku Amien, “kita masih seringkali melihat cara berpikir dan bertindak sebagian anak bangsa yang bagaikan 'beo' yang selalu meniru-niru apa saja yang datang dari barat.”

Bangsa kita ini telah mengalami cobaan penderitaan yang sangat luar biasa. Jangankan membiayai pendidikan, makanan kebutuhan sehari-hari pun sudah sulit terpenuhi. Sungguh mengherankan, takkala penderitaan itu terus berlanjut, sementara di sisi lain, tak ada yang berani tampil sebagai pembela keadilan, maka harapan insan Ulil Albab itu hanya akan berhenti dalam pemikiran yang membacanya.

Tidak ada suatu kemajuan suatu bangsa apabila dahulu bangsanya terbelakang. Tidak ada tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan. Dan tidak ada keadilan jika tidak ada yang berlaku zalim. Sudah saatnya sejarah membuktikan kembali seperti halnya yang terjadi dalam bentangan sejarah, memilih sebagai pendukung keadilan. Bila tidak, maka tak lain adalah pendukung kezaliman karena setelah keadilan itu adalah kezaliman itu sendiri.

Sehubungan dengan tema diatas, sudah saatnya juga para penegak hukum pun tidaklah berdiam diri di kursi kehakiman yang empuk, melarikan diri dan enggan mengoreksi ulang segala Undang-Undang, baik yang berurusan dengan urusan dalam negeri ataupun tentang Penanaman Modal Asing. Sang penegak hukum dengan sadar memahami bahwa keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bila tidak, berarti pendukung penguasa yang zalim yang menindas kaum lemah. Mereka tertindas oleh yang zalim karena berada di bawah bendera yang membutuhkan keadilan. Kita tidak perlu mengharapkan mengharapkan orang diluar kita yang memperbaiki bangsa kita terlebih dahulu. “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya" (QS 13:11).

TUJUAN
• Peserta dapat memahami makna dan fungsi dari intelektual
• Peserta mengerti sejarah dan problematika hukum di Indonesia
• Terbangunnya paradigma integral terhadap hukum sebagai penjaga kestabilan kehidupan
• Peserta mampu merumuskan konsep ideal pelaksanaan hukum di Indonesia


TARGET
• Hukum sebagai instrumen sosial
• Konsep penegakan hukum yang berkeadilan
• Upaya keluar dari hegemoni neoliberalisme yang berpengaruh terhadap produk hukum
Local wisdom sebagai alternatif budaya tanding untuk melawan neoliberalisme.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Hari / Tgl : Minggu – Minggu, 13 – 20 Juli 2008.
Tempat : PP. Darul Hira, Maguwoharjo, Sleman

IV. SYARAT DAN KETENTUAN
1. Lulus LKI (ditunjukan dengan sertifikat atau surat keterangan)
2. Membuat makalah tentang tema, atau resensi buku
“Intelektual Progresif” Karya: Eko Prasetyo.
“Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi”, karya: Moh. Mahfud MD,
Ketentuan penulisan makalah & resensi :
- Minimal 5 halaman A4, (kwarto)
- Spasi : 1,5
- Font : 12 ( Times New Roman)
3. Meringkas/resume Khittoh Perjuangan
Ketentuan penulisan :
- Minimal 2 halaman A4, (kwarto)
- Spasi : 1,5
- Font : 12 ( Times New Roman)
4. Hafalan Juz 30 ( QS An Naas –Ad Duha)


selengkapnya.....

Aktivitas

18 Materi Latihan Kader II HMI MPO FH UII Yogyakarta


Berikut ini beberapa materi, kisi-kisi,
alokasi waktu (durasi) serta pemateri/pembicara
Latihan Kader II (Intermediate Training)
HMI MPO Komisariat Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
(13-20 Juli 2008) ;


1. Filsafat Sebagai Paradigma Keilmuan
2. Dialektika Ideologi
3. Rekayasa Masyarakat Modern
4. Implementasi Tauhid Dalam Rekayasa Modern yang Berkeadilan
5. Islam dan Sains Modern
6. Telaah Kritis Sosial Islam
7. Studi Kritis Sejarah Hukum Indonesia
8. Hukum Dalam Cengkraman Neoliberalisme
9. Local Wisdom Sebagai Budaya Tanding Terhadap Neoliberalisme
10. Peran Intelektual Dalam Merekayasa Sosial
11. Peran Intelektual Dalam Konstelasi Hukum Indonesia
12. Konstruk Masyarakat Indonesia yang Berkeadilan
13. Khittoh Perjuangan Sebagai Paradigma Gerakan HMI
14. Urgensi Perkaderan Dalam Pembentukan Manusia Unggul
15. HMI Dalam Setting Gerakan Ummat
16. Studi Post Colonial
17. Analisis Media Dalam Pembentukan Opini Masyarakat
18. Analisis Sosial

Kisi-kisi, Alokasi Durasi, dan Pemateri

Materi 1
Filsafat Sebagai Paradigma Keilmuan
Kisi-kisi :
Pengertian filsafat
Prinsip-prinsip dalam filsafat
Neraca kebenaran dalam paradigma ilmu
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. AM. Safwan (Direktur Rausyan Fikr)
2. Arkom Kuswantoro (Akademisi)

Materi 2
Dialektika Ideologi
Kisi-kisi :
pengertian ideologi
prinsip-prinsip ideologi
klasifikasi ideologi
kritik ideologi
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Heru Nugroho (Direktur IRE)
2. Ustadi Hamzah (Akademisi)
3. Fachrurrozi (Ketua Yayasan Tikar)

Materi 3
Rekayasa Masyarakat Modern
Kisi-kisi :
pengertian sosoiologi masyarakat
struktur masyarakat modern
analisis masyarakat modern
formasi ideal masyarakat modern
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Zainal Abidin (Direktur CRCS UGM)
2. M. Azhar (Akademisi)
3. Wasim Billah (Akademisi)

Materi 4
Implementasi Tauhid Dalam Rekayasa Modern yang Berkeadilan
Kisi- kisi :
konsep Tauhid
paradigma Tauhid
pemahaman Tauhid secara metodologi dan kontekstual
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Abdul Munir Mulkhan (Guru Besar UIN)
2. Irfan S. Awwas (Pimpinan MMI Jogja)
3. Didik Purwodarsono (Pimpinan PP. Takwinul Mubalighin)

Materi 5
Islam dan Sains Modern
Kisi-kisi :
pengertian sains
sejarah sains
problematika sains modern
Islam dalam memandang sains
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Amin Abdulah (Rektor UIN)
2. Rizal Mustansyir (Akademisi)
3. Aji Dedi Mulawarman (Pengamat)

Materi 6
Telaah Kritis Sosial Islam
Kisi-kisi :
struktur masyarakat yang dicita-citakan Islam
problematika masyarakat Islam modern
konsep masyarakat Islam modern
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Zuly Qodir (Pengamat)
2. Sumrohadi Abdullah (Akademisi)
3. Ashad Kusuma Jaya (Direktur Kreasi Wacana dan Padepokan Siti Jenar)

Materi 7
Studi Kritis Sejarah Hukum Indonesia
Kisi-kisi :
sejarah dan perkembangan hukum di Indonesia
sumber pembentukan hokum di Indonesia
eksistensi supremasi hukum
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Artijo Al Kostar (MA-RI)
2. Deni Indrayana (Direktur Pukat)
3. Iwan Satriawan

Materi 8
Hukum Dalam Cengkraman Neoliberalisme
Kisi-kisi :
pengertian neoliberalisme
skenario global neoliberalisme
intervensi neoliberalisme terhadap hokum Indonesia
Strategi dan Taktik perlawanan terhadap neoliberalisme
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Eko Prasetyo (Pusham UII)
2. Fajrul Falah (Akademisi)
3. Mukti Fajar

Materi 9
Local Wisdom Sebagai Budaya Tanding Terhadap Neoliberalisme
Kisi-kisi :
pengertian local wisdom
unsur-unsur pembentuk local wisdom
gerakan local wisdom dalam melawan neoliberalisme
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Jawahir Thontowi (Akademisi)
2. Herman A. Ma’ruf (Direktur Falsafatuna)

Materi 10
Peran Intelektual Dalam Merekayasa Sosial
Kisi-kisi :
pengertian intelektual
tipologi intelektual
citra diri intelektual
peran intelektual dalam merekayasa sosial
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Andi Darmawan (Akademisi)
2. Dian (Resist Book)

Materi 11
Peran Intelektual Dalam Konstelasi Hukum Indonesia

Kisi-kisi :
fungsi hukum
problematika hokum di Indonesia
strategi dalam penegakan hokum yang berkeadilan
Durasi : 240 menit
1. Busyro Muqaddas (Ketua KY-RI)
2. Suparman Marzuki (Direktur Pusham UII)
3. Rusli Muhammad (Akademisi).
4.Salman Luthan (Direktur LOD DIY)

Materi 12
Konstruk Masyarakat Indonesia yang Berkeadilan

Kisi-kisi :
karakteristik masyarakat Indonesia
komposisi masyarakat Indonesia
konsep masyarakat Indonesia yang berkeadilan
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Nur Ikhwan (Akademisi)
2. Arie Sujito (Pengamat sosiologi)
3. Hujair A Sanaki

Materi 13
Khittoh Perjuangan Sebagai Paradigma Gerakan HMI

Kisi-kisi :
tafsir Islam dalam Khittoh Perjuangan
Khittoh Perjuangan sebagai idiologi organisasi
Khittoh Perjuangan sebagai pedoman gerakan HMI
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Maksun (Aktivis HMI)
2. Muslihin (Mantan Aktivis HMI)

Materi 14
Urgensi Perkaderan Dalam Pembentukan Manusia Unggul
Kisi-kisi :
Pola umum perkaderan HMI
Dinamika perkaderan HMI
Studi kritis pedoman perkaderan HMI
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Azwar M. Syafe’i (Pengurus PB HMI)
2. Muzakkir Djabbir (Mantan Ketua PB HMI)

Materi 15
HMI Dalam Setting Gerakan Ummat
Kisi-kisi :
Dinamika gerakan HMI
Konstruksi gerakan HMI
Relevansi gerakan HMI dalam konteks keummatan
Strategi gerakan HMI masa kini
Durasi : 240 menit
Pemateri :
Syahrul Efendi Dasopang (Ketua PB HMI)

Materi 16
Studi Post Colonial
Kisi-kisi :
pengertian post colonial
meodologi post colonial
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Muhiddin M. Dahlan (penulis Buku)
2. Al Fayadl (Penulis Buku)

Materi 17
Analisis Media Dalam Pembentukan Opini Masyarakat
Kisi-kisi :
Urgensi dan pencitraan media
Tipologi media
Manajemen strategi media
Peran media dalam pembentukan opini dan perilaku masyarakat
Durasi : 240 menit
Pemateri :
1. Masduki (ketua Program Komunikasi UII)
2. Marie Le Sourd (Pengamat Media)
3.Yusuf Maulana (Pengamat Media)

Materi 18
Analisis Sosial
Kisi-kisi :
Fungsi analisis sosial
Ruanglingkup analisis social
Metode penelitian sosial
Durasi : 180 menit
Pemateri :
Thres Santyeka (Pengamat Sosial)

Tempat Studi Lapangan:
1. PUSHAM UII
2. LBH APIK
3. LKBH
4. LOD DIY
5. LBHAM

selengkapnya.....

Syarat & Ketentuan
Latihan Kader II HMI Komisariat
Fakultas Hukum UII Yogyakarta


:: Lulus Latihan Kader I

(ditunjukkan dengan sertifikat atau surat keterangan)

:: Membuat makalah tentang tema LK II, atau membuat resensi buku :
>Intelektual Progresif (Eko Prasetyo)
>Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi (Moh. Mahfud MD).
Ketentuan penulisan makalah & resensi buku
- Minimal 5 halaman A4, (kwarto)
- Spasi : 1,5
- Font : 12 ( Times New Roman)

:: Membuat ringkasan/resume Khittoh Perjuangan
- Ketentuan penulisan
- Minimal 2 halaman A4, (kwarto)
- Spasi : 1,5
- Font : 12 ( Times New Roman)

:: Hafalan Juz 30 (QS An Naas –Ad Duha)

selengkapnya.....

08 Juli 2008

Membangun Peradaban Islam Dengan Ilmu

Imam Nawawi*


Memperhatikan wacana dan diskusi yang dibangun oleh hampir seluruh gerakan Islam ulasannya tidak pernah lepas dari persoalan kebodohan, kemiskinan dan keterpurukan. Kompleksitas problematika itu tidak sedikit menjadikan sebagian besar umat Islam tidak terkecuali mahasiswa mengalami inferiorisme yang akut. Sebab secara substansial tidak saja dikarenakan mereka enggan menggunakan simbol-simbol ke-Islam-an lebih dari itu adalah mulai merebaknya frame work mereka yang cenderung pluralis dikotomis. Ironisnya kondisi ini justru banyak dijumpai pada kalangan mahasiswa Islam yang nota bene merupakan kader umat yang diharapkan mampu membawa tongkat estafet perjuangan menuju tegaknya peradaban Islam.

Dalam lingkup kemahasiswaan, faktor-faktor eksternal atas terjadinya problematika umat, seperti kemiskinan, kebodohan dan keterpurukan sering menjadi bahasan hampir di setiap forum dan kesempatan. Dalam hal ini biasanya imperialisme, komunisme, kapitalisme merupakan penyebab utama tragedi umat Islam selama ini. Di sisi lain sebagian besar mereka mengabaikan kondisi internalnya. Dengan kata lain mahasiswa belum secara maksimal mempersiapkan diri menjadi bagian dari problem solving dari permasalahan umat ini.

Akibatnya suburlah doktrin bahwa aktivis itu adalah mereka yang sering turun ke jalan dan berorasi di depan demonstran. Akibatnya kebanggaan menjadi seorang mahasiswa adalah apabila telah melakukan orasi dan demonstrasi. Pada saat yang sama semakin lama tinggal di kampus seolah menjadi satu konsensus di kalangan mereka bahwa yang demikian itu adalah aktivis sejati.
Apa yang telah diupayakan oleh saudara-saudara kita ini tidak ada yang salah. Semuanya adalah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Namun sebagai kandidat cendekia Muslim Indonesia perlu bagi kita untuk mengajukan satu pertanyaan mendasar, apa sebenarnya akar dari semua problem ini?

Kebodohan
Jika kita menelusuri lebih jauh akar dari setiap problematika umat manusia tiada lain adalah kebodohan. Lahirnya masa renaissance adalah respon dari masa kebodohan sebelumnya. Bahkan kehadiran Islam di muka bumi adalah dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari jurang kebodohan. Demikian pula halnya dengan diutus silih bergantinya para Nabi dan Rasul.

Secara bahasa kebodohan (the ignorance) berasal dari kata bodoh yang mendapat imbuhan ke-an (yang menunjukkan sifat) secara bahasa berarti tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau tidak dapat (mengerjakan)** Ketidaktahuan inilah yang sejatinya merupakan sumber dari segala problem yang dihadapi umat Islam dewasa ini. Kondisi ini pula yang menyebabkan umat Islam sangat sulit untuk bersatu-padu melawan kekufuran. Bahkan karena kebodohan ini pula seringkali cara yang kita gunakan justru seringkali kian memperburuk citra Islam di mata dunia. Islam kian kuat dengan stigma negatifnya dan bahkan generasi muda kian minder dengan statusnya sebagai muslim atau muslimah.

Kemiskinan
Secara umum setiap orang akan sepakat bahwa kalau yang dimaksud dengan kemiskinan (poverty) itu adalah keadaan tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Yang perlu kita garis bawahi adalah mengapa kesepakatan akan makna kemiskinan ini terjadi. Padahal dalam salah satu hadis Nabi dinyatakan bahwa orang miskin adalah orang yang hatinya jauh dari Allah. Bahkan di hadis lainnya disebutkan bahwa orang bangkrut adalah orang yang banyak melakukan amal sholeh dimana pada saat yang sama dia juga sering melukai hati dan perasaaan saudara seimannya.

Tidak salah jika kemudian ketiadaan materi itu diklaim sebagai miskin. Akan tetapi dalam perspektif Islam kemiskinan tidak selalu berdimensi material. Ketiadaan ilmu dan amal adalah kemiskinan dalam makna yang sesungguhnya. Jika kemiskinan harta menghalangi seseorang hidup mewah maka kemiskinan ilmu dan amal akan menghalangi seorang muslim menggapai surga. Di sinilah kemudian menjadi sangat jelas bahwa antara kemiskinan dan kebodohan adalah ibarat satu mata uang yang kedua sisinya tidak dapat dipisahkan. Dalam pandangan Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas kemiskinan ilmu inilah penyebab dari lost of adab yang juga berarti lost of identity.

Menjemput Peradaban Islam
Aktivis HMI lebih akrab dengan istilah tamaddun dari pada peradaban. Secara bahasa tamaddun lebih mendekati makna substansial dari tujuan perjuangan umat Islam yakni masyarakat madani (seperti Madinah), yang secara leterlek berarti tempat di mana din (Islam) ini ditegakkan. Dengan demikian maka sangat jelas bahwa dalam rangka untuk membangun peradaban Islam tersebut kekuatan internal umat harus diprioritaskan. Mulai dari semangat belajar Islam sampai pada semangat untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara kaffah. Dalam konteks ke-HMI-an ini bisa kita mulai dengan secara simultan membiasakan seluruh penghuni sekretariat komisariat, Cabang, Badko dan PB untuk sholat berjama’ah lima waktu dan membaca al-Qur’an setiap hari.

Hal ini penting karena merubah keadaan serba kacau saat ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kita akan memberantas kemiskinan sementara ilmu kita mengenai syariah Islam masih terbatas. Terkait dengan ini maka satu hal yang perlu kita agendakan adalah bagaimana sebenarnya langkah yang tepat bagi kita semua memenangkan kembali peradaban Islam. Apakah dengan mengganti pemerintahan atau kita persiapkan generasi yang memahami Islam dengan baik sekaligus mengerti Barat secara mendalam?

Gerakan kembali mempelajari Islam dengan baik (tafaqqahu fid din) merupakan langkah strategis yang harus kita canangkan bersama dalam upaya mengentas umat Islam dari kebodohan, kemiskinan dan keterpurukan. Tanpa didasari ilmu perjuangan kita selamanya akan mudah dibelokkan dan secara tidak sadar kita berjuang untuk Islam tapi hasilnya justru merugikan umat Islam sendiri. Perpecahan dan kemelaratan setidaknya adalah bukti konkrit dari kemiskinan ilmu dan amal umat Islam saat ini.

Melalui ilmu ini nantinya akan terbentuk miliu dan akan berkembang merambah pada dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Hal ini sangat jelas sekali bagi Francis Bacon (filosof dari Inggris) hingga populer dengan ungkapannya bahwa “hegemoni politik, ekonomi, militer akan segera hancur jika tidak didukung dengan kekuatan ilmu.”
* Penulis adalah Kader HMI MPO Cabang Surabaya
**http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php.

selengkapnya.....

HMI MPO Cabang Surabaya Gelar Konferca

Oleh Syaiful Anshor

Surabaya, (Inbagteng Cyber Media)
Gema takbir membahana setelah terpilihnya tiga formaturiat HMI cabang Surabaya. Hampir seluruh peserta membesarkan asma-Nya dibarengi ucapan hamdalah. Peserta juga memberi dukungan kepada yang terpilih. Mereka adalah Asnawi Lubis sebagai ketua formatur (ketua terpilih), Slamet Abdul Matin, dan Yusuf Qardhowi. Amanah itu tidak boleh dicari dan diminta, tapi bila diberi amanah maka harus diterima dan dijalankan dengan baik, ungkap Slamet Abdul Matin mantan Sekretaris Umum tahun 2007 saat memberikan sambutan.

Konferensi Cabang (Konferca) ke-II HMI cabang Surabaya dihelat pada Minggu (29/6) di Mushola Fillah, Kejawan Putih Tambak, Surabaya, Jawa Timur. Acara yang dihadiri sekitar 25 kader HMI dimulai pukul 10.00 WIB dan dibuka oleh Ketua HMI Badko Inbagteng Moh. Syafi’ie. Meski sempat timbul perdebatan dalam pembahasan draft dalam sidang komisi, namun Konferca dapat berlangung lancar hingga usai sekitar pukul 22.00. WIB.

“Dengan diadakannya Konferca ke-II, kini HMI Cabang Surabaya berada dalam posisi start”, ungkap Syafi’ie. Oleh karena itu, positioning yang ada ini harus dioptimalkan guna kelanjutan HMI Surabaya ke depannya. Syafi’ie juga menegaskan bahwa prosesi Konferca cukup dialogis dan penuh dialektika yang bagus, hal ini menandakan kader-kader HMI Surabaya secara global telah memiliki kapasitas untuk membawa nama HMI di kancah Jawa Timur dan nasional.

Mengenai program HMI kedepannya, Asnawi Lubis sebagai ketua tepilih, akan menjadikan HMI sebagai wadah untuk pembentukan pribadi kholifatullah yang menjalankan syariat islam. Sebab, bangsa ini sedang memerlukan calon pemimpin yang tidak hanya cerdas intelektualnya, namun juga spiritual dan akhlaknya.

Setelah terpilih tim formaturiat, kini tim tersebut sedang menyusun struktur HMI priode 2008-2009. Adapun yang terpilih sebagai Majelis Syura Organisasi (MSO) adalah Ardita, Rosidin dan Slamet Abdul Matin. Dengan suksesnya perhelatan Konferca ke-II, kini HMI Cabang Surabaya makin optimis dalam menjalankan pesan-pesan organisasi, yaitu menjadi insan ulil albab. Semoga.[sa]

selengkapnya.....

25 Juni 2008

Terms of Reference Senior Course HMI (MPO) Cabang Yogyakarta


Membangun Integritas Pengader
Upaya Penguatan
Perkaderan Umat

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah wadah pendidikan yang berusaha dengan kesungguhan dan totalitasnya membentuk mahasiswa yang dapat melakukan perbaikan masyarakat di segala medan perjuangan dan segala waktu. HMI juga merupakan wadah yang secara tekun dan istiqomah melakukan perbaikan-perbaikan kehidupan masyarakat dengan melibatkan diri secara langsung dalam proses amar ma’ruf nahi mungkar pada sistem sosial masyarakat (Khittoh Perjuangan HMI : Hakekat perjuangan).

Sampai disini dapat dipahami bahwa sesungguhnya kehadiran HMI ditengah umat adalah dalam rangka ikut berpartisipasi menyelesaikan permasalahan umat (problem solver) yang semakin hari semakin kompleks. Permasalahan internal umat maupun permasalahan yang disebabkan faktor luar (eksternal).
Begitu juga dengan permasalahan-permasalahan bangsa Indonesia yang sekarang begitu kompleks dan akut. Dalam konteks ini, HMI sangat menyadari bahwa salah satu permasalahan mendasar dari semua itu adalah berakar dari permasalahan krisis sumber daya manusia (SDM).

Ketersedian SDM yang berkompoten dan mempunyai integritas diri sampai saat ini masih menjadi problem besar khususnya bagi bangsa Indonesia. Berbagai permasalahan seperti KKN, mafia peradilan, keterbelakangan pendidikan dan sektor-sektor lain tidak lepas dari minimnya ketersediaan SDM tersebut. Permasalahan-permasalahan seperti inilah yang ingin berusaha dijawab oleh HMI secara progresif. Anak-anak muda yang berada dalam organisasi ini menjadi potensi kekuatan besar sebagai unsur perubah dan perbaikan Indonesia serta umat Islam ke depan. Sejarah mencatat banyak perubahan-perubahan besar dan penting yang terjadi belahan dunia ini (Eropa, Amerika, Afrika, Asia, dll) selalu hadir dari kegelisahan-kegelisahan dan gelora darah juang pemuda yang tidak pernah redup.

Kenapa hal ini terjadi ? Karena dalam diri pemuda terdapat idealisme, kecerdasan, sikap kritis dan kepekaan sosial, semangat, keberanian dan pengorbanan. Hal inilah yang membuatnya terus bergerak untuk membawa perubahan. Generasi seperti inilah yang digambarkan oleh Syari’ati kaum intelektual yang tercerahkan oleh cahaya-Nya. Namun perjalanan sejarah sekarang kian menunjukan bahwa pribadi-pribadi seperti ini semakin kian langka. Banyak pribadi-pribadi pemuda yang mulai mengalami split personality akibat kuatnya pengaruh “skenario” sejarah yang mengarah pada materialisme dan heddonisme serta ditambah dengan semakin melemahnya daya immunitas diri akibat permasalahan konsep diri dan semakin jauhnya kedekatan dengan Sang Penguasa lagi Maha Kuat.

Oleh karena itulah, HMI secara konsen menjadikan dirinya sebagai organisasi perkaderan yang terus berupaya untuk meningkatkan kualitas anggota-anggotanya dengan memberikan pemahaman ajaran dan nilai kebenaran Islam dengan penuh hikmah, kesabaran dan kasih sayang. Dari proses inilah diharapkan muncul pribadi ulul albab yang mampu menggambungkan dalam dirinya sebagai mu’abbid, mujahid, mujtahid dan mujaddid (hal inilah yang selanjutnya disebut sebagai kader yang memiliki integritas). Kader-kader inilah yang akan tampil sosok khalifah Allah di muka bumi dengan membawa agenda-agenda perubahan dan kemaslahatan bagi umat dan bangsa (agen of change).

Pikiran dan idealisme besar di atas merupakan pemimpin bagi kader-kader HMI dalam menjalan roda organisasi. Merealisasikan pikiran-pikiran besar tersebut diperlukan kinerja-kinerja besar organisasi khususnya dari kader-kader inti (yang selanjutnya disebut pengader) yang ada di dalamnya. Namun problem yang ada sekarang adalah masih terjadinya disintegritas kepribadian pada banyak diri pengader. Permasalahan disintegritas disebabkan oleh banyak hal, bisa berupa sistem yang ada, lingkungan yang mengitari, diri pengader sendiri maupun faktor lain.

Disadari atau tidak, disintegritas dan disharmonisasi pribadi inilah yang banyak menghambat proses transformasi dan gerak perubahan diri pada kader-kader non-pengader. Sedangkan pengader dalam HMI merupakan lokomotif dari gerak perubahan tersebut baik perubahan internal organisasi (tanpa menyampingkan yang lain) maupun perubahan ummat. Permasalahan ini tidak saja menjadi kegelisahan internal organisasi, tetapi juga akan menjalar sebagai bagian dari kegelisahan bangsa. Karena HMI dan kebangsaan adalah ibarat dua sisi pada satu keping mata uang.

Oleh karena itu, agenda untuk merivitalisasi peran pengader merupakan agenda “fardu ‘ain” bagi internal HMI. Sub agenda dari agenda besar ini adalah membangun integritas pengader itu sendiri. Kenapa harus mulai dari integritas ? integritas adalah keutuhan. Keutuhan kepribadian. Di dalamnya ada keselarasan antara niat (motivasi), perkataan (keilmuan) dan perbuatan (gerak/amal). Integritas inilah yang digambarkan oleh HMI sebagai insan ulil albab. Tanpa adanya integritas, maka yang terjadi adalah perubahan yang dipaksakan dan tidak mempunyai substansi. Atau perubahan itu akan berganti dengann perubahan yang desturktif. Kemudian karena posisi strategis pengader dalam masyarakat organisasi dan masyarakat umum, menjadikan integritas diri merupakan keniscayaan yang harus diwujudkan oleh setiap pengader (dan juga kader secara umum).

Dalam konsepnya, pengader HMI adalah mereka yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad di jalan Allah SWT, istiqomah, memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan tugasnya sebagai pengelola latihan. Kemudian integritas diri pengader tersebut digambarkan dengan tiga hal peran yang harus direalisasikan oleh pengader yaitu sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang (mujahid).

Pengader sebagai pendidik digambarkan sebagai hamba yang membawa dan menjaga nilai-nilai Islam. Oleh karenanya. ia harus mampu memposisikan dirinya sebagai kader yang bisa menjadi contoh (Uswatun hasanah) yang baik bagi kader lain maupun oleh masyarakat umum. Keselarasan antara niat dalam hati, perkataan dan perbuatan merupakan wujud dari integritas seorang pendidik. Disamping itu, pengader sebagai pendidik digambarkan mampu membangkitkan potensi kader dan mengarahkannya dengan proses pengembangan dan pemberdayaan yang produktif. Sehingga bisa membawa kemaslahatan bagi dirinya maupun bagi ummat.

Pengader sebagai pemimpin digambarkan sebagai kader yang mampu menghadirkan solusi dari setiap permasalahan-permasalahan kader maupun struktur (problem solver). Sikap yang dewasa, bijaksana, mengedapankan ukhuwah (mengayomi) dan rasional serta beroreantasi pada kebenaran yang didasarkan pada nilai-nilai Illahiyah merupakan citra diri pengader sebagai seorang pemimpin. Contoh diri seperti inilah yang sekarang sedang dibutuhkan ummat sekarang di saat konflik horizontal dan vertikal yang sering bermunculan. Dalam konteks inilah seorang pengader bisa menjadi rujukan bagi pendidikan (perkaderan) dalam kehidupan ummat.

Kemudian pengader sebagai pejuang (mujahid) digambarkan sebagai sosok yang proaktif dalam hal kebaikan dan menjadi pelopor dalam masalah amar ma’ruf nahi mungkar baik di lingkungan masyarakat HMI maupun dalam masyarakat umum. Perjuangan sendiri adalah manifestasi dari keimanan yang bersih dan kokoh. Perjuangan merupakan kebutuhan pokok bagi pengader maupun kader umum. Perjuangan yang didasarkan atas niat yang suci, nurani yang bersih dan keterpanggilan jiwa dalam membawa kebaikan bagi internal HMI dan lebih-lebih masyarakat umum. Salah satu permasalahan utama dalam diri banyak pemimpin sekarang adalah hilangnya nilai diri sebagai pejuang yang suci dan sejati dalam membela dan menegakan kebenaran, kemudian diganti sebagai pejuang nafsu diri dan kelompok.

Usaha membangun integritas pengader _sebagaimana telah dijelaskan di atas_ tidak hanya sebagai proses untuk menjawab berbagai kegelisahan para aktivis HMI tentang realitas pengader sekarang dan kedepan, tetapi juga sebagai usaha sadar untuk menjawab krisis integritas SDM bangsa Indonesia. Hal ini juga sebagai bagian dari usaha yang kontinyu dari HMI untuk menjadi bagian dari aktor dalam mewujudkan masyarakat yang diridhoi Allah SWT, sebuah masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang secara dinamis menuju bentuknya yang ideal (paripurna).

Pikiran-pikiran di atas merupakan hal yang mendasari dan sekaligus menjadi core dari proses pelakasanaan senior course (SC) yang ke-79. SC ini hanyalah babak awal dari usaha menjawab permasalahan dan idealisme tersebut. SC ini merupakan pemantik awal untuk membangun pemahaman dan kesadaran calon pengader bahwa dirinya akan menjadi pengader, dan sadar dengan konsekuensi sebagai pengader. Menjadi pengader merupakan konsekuensi logis perjuangan yang harus dilalui oleh seorang aktivis atau pejuang. Label pengader ini tidak hanya melekat ketika seorang aktivis berada dalam lingkungan organisasi tetapi merupakan label yang tetap harus melekat dalam diri pengader sampai ia di panggil kembali oleh Allah. Karena memang Allah menciptakan kita manusia untuk menjadi pejuang sejati. Kemudian dari sinilah baru bisa didapatkan makna bahwa seorang pengader adalah penguat perkaderan umat.
Wallahu a’lam bishowab.

Info Teknis Senior Course 79
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta akan mengadakan Senior Course ke 79.
Tema : "Membangun Integritas Pengader; upaya Penguatan Perkaderan Umat".

Pelaksanaan: 27 Juni-3 Juli 2008

PENDAFTARAN DAN TES SELEKSI
Pendaftaran dibuka maksimal tanggal 24 Juni pukul 24.00. melalui Call-SMS Center : 085292776455 (ketik : nama spasi komisariat/cabang spasi no hp) atau datang ke sekretariat.

Jadwal tes seleksi sc ditentukan sebagai berikut :
1. Hari Rabu, 25 Juni 2008 pukul 19.30 – 24.00 : Tes Pos I (Keislaman), Pos II (Ke HMI an), Pos III (Makalah). Hadir lebih dari pukul 24.00 tidak diterima.
2. Hari Kamis, 26 Juni 2008 Pukul 19.30-24.00 : Tes Pos IV (Micro teaching). Semua calon peserta.

Catt.
- Ketentuan berlaku bagi semua Cabang
- Pendaftaran setelah tagl 24, tidak diterima dan Bila tes diluar jadwal, tidak dilayani
- Kehadiran tes masuk penilaian.

Kontribusi : Rp. 57.000,-



selengkapnya.....

05 Juni 2008

Tolak BKM : Bungkam Kritik Mahasiswa !

M. Mahrus Ali*

Setelah berhasil ‘menyuap’ rakyat dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT), kini mahasiswa-pun jadi target penyuapan berikutnya. Program Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) sejumlah 500 ribu persemester bagi 400 ribu mahasiswa akan segera dikucurkan, inikah agenda Pemerintah membungkam nalar kritis mahasiswa ?

Langsung tunai, langsung habis…itulah kesan publik terhadap program ‘tebar rupiah’ sebesar 300 ribu sebagai kompensasi naiknya harga BBM. Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menaikkan harga BBM sebesar 28,7 % maka konsekuensinya subsidi BBM dialihkan menjadi subsidi lansung dengan memberikan sejumlah uang kepada masyarakat yang tergolong miskin yang berjumlah 19,1 juta orang. Sungguh sangat tidak mendidik ! Pemerintah telah mendidik bangsanya dengan menjadi peminta-minta, pengemis, rakyat miskin rela berdesak-desakan demi 300 ribu yang mungkin tak cukup untuk seminggu

Tak beda dari BLT, Pemerintah luncurkan BKM, bantuan ini akan diberikan bagi 400 ribu mahasiswa dengan nominal 500 ribu persemester. Bagi mahasiswa yang kritis tentu tak akan mudah tergiur dengan uang yang tak seberapa itu bila dibandingkan penderitaan rakyat miskin yang harus mati karena kelaparan. Ironis memang, bahkan bisa dibilang strategi ini cukup ‘picik’ untuk meredam gejolak mahasiswa yang tak pernah berhenti mengkritik, protes terhadap kebijakan pemerintah selama ini. BKM tak lebih dari upaya disoreintasi pola pikir mahasiswa untuk selalu menanti bantuan dari pemerintah. Bagaimana sarjana Indonesia bisa maju, kritis, bebas dari perilaku korup, jika pemerintah sendiri yang mendorong mahasiswa untuk menjadi pengemis, selalu menengadahkan tangan untuk meminta bantuan.

Langsung dibantu, langsung diam, itulah yang diharapkan ketika mahasiswa menerima uang BKM 500 ribu, mereka langsung bisa diam tidak protas-protes terus terhadap kebijakan pemerintah. Lalu kalau bukan mahasiswa, siapa akan mengontrol pemerintah ? kekuasaan itu cenderung korup, apalagi tidak ada lagi pemantaunya. Jika kondisi ini terus berlanjut, ada kebijakan pemerintah yang ditentang, kasih uang. Semuanya serba uang. Maka tidak akan lama bangsa Indonesia akan hancur, hanya karena ribut dan merebut masalah uang.

Mendiknas, Bambang Sudibyo (Republika, 29/05) bisa saja berkilah dengan mengatakan bahwa dana BKM tidak diambil dari program BLT melainkan dari anggaran pendidikan. BKM bertujuan membantu mahasiswa yang tidak mampu. Meski demikian, timbul pertanyaan, mengapa baru sekarang BKM diluncurkan? Mengapa BKM hampir bersamaan dengan pengucuran dana BLT ?. Apakah SBY-JK takut diturunkan mahasiswa seperti layaknya Soeharto. Atau ini hanya rekayasa politik tebar pesona untuk menyambut Pemilu 2009 ?. Kondisinya memang cukup spekulatif. Namun yang jelas setiap kebijakan yang diambil pemerintah pasti akan ending-nya yang tidak lain adalah “menciptakan stabilitas nasional” untuk kepentingan politik yang lebih besar. Meski ini tak terungkap. Jelas tersirat dari kebijakan pemerintah yang ‘gagap realita’ sampai-sampai rakyat dan mahasiswa harus disuap agar tidak menentang pemerintah.Jika memang BKM murni untuk mahasiswa –khususnya bagi yang tidak mampu –dan tidak ada hidden agenda (agenda tersembunyi) di dalamnya, maka seharus BKM diberikan tidak pada saat kenaikan BBM.

Uang yang ditebar dalam bentuk BLT tidak sedikit. Pun demikian dana BKM, dengan maraknya agenda tebar rupiah dapat diasumsikan cara pandang penguasa saat ini “ .....sudahlah...rakyat kita lapar... kasih mereka uang, dijamin semua masalah selesai. Jangan lupa mahasiswa juga diberi uang, beri mereka jumlah yang lebih besar supaya tidak demo terus. Toh sebentar lagi juga rezim ini akan habis masanya. Ayo habiskan anggaran negara. Yang penting untuk rakyat, apapun caranya.......

Inikah logika yang dibangun para elit saat ini. Demi mempertahankan kekuasaan yang hanya tinggal menghitung bulan, segala cara ditempuh agar tetap bisa bertahan. Jika rakyat sudah disuap BLT dan mahasiswa akan dibungkam BKM, bukan tidak mungkin kalangan akademisi akan dipreteli juga untuk mendukung kekuasaan. Maka jadilah mereka –meminjam istilah Julien Benda-pengkhianatan intelektual.

BKM dan Gerakan Mahasiswa
Fajdroel Rahman (Kompas, 29/05) juga mengkritik keras BKM, bahkan dia tak segan-segan mengatakan bahwa hal tersebut tak lain adalah suap untuk mahasiswa. Diakhir tulisannya dia mengutip ungkapan Soe Hoe Gie “lebih baik diasingkan daripada harus menyerah pada kemunafikan”. Ini peringatan keras untuk kaum intelektual, terdidik dan terpelajar khususnya mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan). Maka jika mahasiswa lengah, lalai atau terbuai dengan belaian BKM, tunggulah saat kematian gerakan mahasiswa.

BKM adalah pemandulan gerakan mahasiswa gaya baru, kalau dulu zaman orba ada NKK BKK, kini model ini menjelma lebih soft bahkan beraroma materialis yaitu dengan lembaran rupiah. Lima lembar kertas ratusan ribu akan melemahkan jiwa perlawanan mahasiswa terhadap realita yang terjadi. Dengan BKM mahasiswa akan dirubah cara pandangnya dalam melihat kebijakan pemerintah. Program tersebut tak lebih dari upaya menarik simpati mahasiswa yang juga terkena imbas kenaikan BBM. Singkat kata, mahasiswa juga dapat merasakan program bagi-bagi uang ala pemerintah saat ini. BLT dan BKM adalah saudara kembar yang akan dijadikan bahan kampanye pemilu 2009. Dua program itulah yang akan selalu menjadi headline ampuh ketika para elit yang berkuasa saat ini ingin tampil kembali dipentas politik nasional.

Tolak BKM, karena ini jelas sangat politis, tidak murni untuk membantu dunia pendidikan. BKM hanya akan membenamkan kesadaran kritis mahasiswa dan menodai jiwa intelektual mahasiswa. Bagi mahasiswa yang memang butuh bantuan dana kuliah, masih banyak lembaga-lembaga lain yang menyediakan beasiswa, daripada mahasiswa harus menari diatas penderitaan rakyat yang hanya mendapat 300 ribu untuk menyambung hidunya, lebih baik kita tolak BKM. Bagi mahasiswa yang tercerahkan tentu tidak akan sudi nilai suci perjuangannnya digantikan lembaran rupiah.

* redaktur inbagteng cyber media, pengurus HMI Badko Inbagteng 2007-2009

selengkapnya.....

Bebaskan Indonesia 100%
dari Cengkeraman Asing dan Komplotannya !!


Sejak awal, HMI telah memprediksikan bahwa rezim SBY-JK akan menempuh opsi menaikkan BBM di tengah naiknya harga BBM di tingkat pasar internasional. Opsi menaikkan BBM merupakan hal yang alamiah dan logis saja dari garis kebijakan ekonomi politik rezim SBY-JK yang menganut jalan neoliberalisme dan watak pemerintahannya yang tidak berpihak kepada rakyat mayoritas yang terpinggirkan. Jalan neoliberalisme pasti akan menyesuaikan diri dengan tren pasar dan akan memenangkan kepentingan pasar ketimbang kepentingan rakyat kebanyakan. Maka demikianlah yang terjadi pada masa rezim SBY-JK. Sebanyak tiga kali menaikkan harga BBM dalam masa kepemerintahannya yang belum genap lima tahun.

Rezim SBY-JK lebih tepat disebutkan sebagai rezim kepanjangan tangan asing dan komplotannya di dalam negeri dengan cara memanipulasi pilihan rakyat lewat instrumen demokrasi, Pemilu. Pilar asing dan gengnya tampak dengan nyata dalam komposisi Tim Ekonomi dan Moneter kabinet SBY-JK.
Tim Ekonomi dan Moneter kabinet SBY-JK yang terdiri dari Srimulyani, Budiono, Mari Elka Pangestu, Abu Rizal Bakrie dan lain-lain sama sekali tidak berhasil mengatasi krisis ekonomi Indonesia yang masih berlangsung hingga hari ini. Anehnya, SBY-JK sama sekali tidak menyingkirkan Tim Ekonomi dan Moneter yang sudah terbukti gagal tersebut. Ini membuktikan bahwa SBY-JK juga merupakan bagian dari mereka.

Mencermati masalah tersebut, sudah saatnya bangsa ini bebas dari asing dan komplotannya agar Indonesia benar-benar mandiri 100% seperti cita-cita bangsa ini didirikan. Selama kuku-kuku kekuasaan asing masih mencengkram bangsa ini, seperti yang terwujud dalam Utang Luar Negeri dan perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi di sektor keuangan, telekomonikasi, pertambangan dan sektor-sektor strategis lainnya di Indonesia, maka jangan harap Indonesia akan bisa maju dan makmur. Maka dari itu, momentum menggeloranya ketidakpuasan masyarakat kepada rezim SBY-JK dewasa ini, harus dijadikan sebagai momentum pembebasan Indonesia 100% dari asing dan antek-anteknya yang menjelma menjadi elit-elit politik nasional. Elit-elit politik oportunis yang mengangkangi rakyat dan berpura-pura cinta tanah air inilah yang merusak bangsa ini hingga tidak bisa keluar dari jebakan krisis selama bertahun-tahun.

Menjelang masa Pemilu yang semakin dekat, elit-elit politik oportunis yang kedoknya sudah ketahuan sebagai komplotan asing tersebut harus dicegah untuk tidak tampil sebagai pemimpin dalam setiap jalur, mulai dari jalur legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pencegahan ini berguna untuk mencapai cita-cita Indonesia pasca Pemilu 2009 yang mandiri 100% dan bebas 100% dari kekuasaan asing dan komplotannya. Dengan demikian, tujuan Pemilu sebagai sarana mensejahterakan rakyat dapat dicapai.

Untuk itu, HMI di berbagai daerah harus aktif melakukan gerakan penyadaran publik untuk tujuan Indonesia pasca Pemilu 2009 yang mandiri 100% dan bebas 100% dari cengkeraman asing dan komplotan domestiknya.

Sumber : Panduan Aksi PB HMI MPO

selengkapnya.....
Designed by - alexis 2008 | ICM