Tampilkan postingan dengan label Course. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Course. Tampilkan semua postingan

11 September 2008

SC Wonosobo

Senior Course III Akan Dihelat HMI Wonosobo

Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1429 H, HMI Cabang Wonosobo akan menghelat Senior Course (Kursus Pengader) III. Berdasarkan ToR yang redaksi terima, SC akan digelar pada 12 – 15 September 2008. Adapun tema yang diangkat kali “Sinergisitas Ramadhan dan Peran Pengader Dalam Mengemban Amanah Perkaderan HMI Menuju Masyarakat Cita HMI”. Kegiatan ini pada dasarnya memang dikhususkan bagi kader HMI yang sudah melewati jenjang intermediate training dan sudah siap menjadi pengader.
Sebagaimana lazimnya kursus pengader di HMI, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para peserta untuk dapat mengikutinya. Adanya rekomendasi dari cabang, mengikuti tes seleksi dan menyusun makalah sesuai tema adalah merupakan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi peserta SC. Untuk lebih jelasnya, berikut kami lampirkan term of reference secara keseluruhan.

Term of Reference (TOR) Senior Course (SC) III
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Wonosobo

Tema:
“Sinergisitas Ramadhan dan Peran Pengader Dalam Mengemban Amanah Perkaderan HMI Menuju Masyarakat Cita HMI”


Latar Belakang
Berapa kali kita telah melewatkan moment Ramadhan, berapa kali pula kita mendapati hal yang sama, yakni rutinitas menahan lapar dan haus sebulan penuh. Kesan apa yang kita peroleh selama dan setelah Ramadhan, apakah kesan biasa-biasa saja karena sudah sangking seringnya. Adakah sesuatu yang bertambah baik dari kekurangbaikan, ataukah ada yang berubah baik jika sebelumnya penuh peluang untuk sebuah perubahan. Bukankah janji Allah mutlak akan sebuah makna, hikmah dan revolusi nilai seribu kesucian. Atau jangan-jangan kita semua kecolongan akan moment-moment Ramadhan menuju kita selama ini.
Ya, tak heran jika seribu orang berpuasa, namun tak seribu yang sungguh berpuasa hakiki. Sekedar lapar dan haus saja nilai mereka. Kemudian siapa yang tak sekedar berpuasa dan tak sekedar peroleh lapar dan haus saja? Dan tugas kita semualah mencari cara akan rahasia makna dan hikmah disebalik Ramadhan kini esok dan mendatang. Bukankah kita menyepakati, bahwa Ramadhan bukan sekedar moment. Bukankah terdapat awal Al Qur’an diturunkan, begitu juga terdapat lailatul qadar pula didalamnya.
Tak salah kiranya jika kemudian moment Ramadhan pun kita coba maknai dengan sebuah sinergisitas akan sebuah amanah perkaderan HMI. Misi akan tegaknya amar ma’ruf nahy munkar. Memperbarui semangat yang kini mulai lemah, membasuh kembali piranti perjuangan yang mulai berdebu. Juga menyadari kembali, bahwa banyaknya pembicaraan harus pula diimbangi dengan banyaknya bertindak dan bertauladan.
Mengingat pula, bahwa perkaderan dan perjuangan adalah ruh dari HMI, dimana satu sisi menginginkan kader-kader yang mumpuni secara pribadi yang harus mampu menjawab problematika kedirian, dan sebagai makhluk sosial disisi lain mengemban misi khalifatullah. Yang konsekuensinya tak hanya mengurus dirinya sendiri, namun juga bertanggung jawab akan lingkungan sosial, dan langkah awalnya ialah menguatkan jati diri dan tauladan dalam sisi perkaderannya.
Konsep perkaderan dan perjuangan HMI laksana dua ruang dalam satu waktu, keduanya saling komplementer. Perkaderan merupakan upaya peningkatan kualitas individu-individu dalam sebuah himpunan dengan memberikan pemahaman ajaran dan nilai kebenaran Islam secara penuh hikmah, kesabaran dan kasih sayang. Perkaderan tersebut meliputi pembinaan sikap serta penambahan pengetahuan dan ketrampilan yang memungkinkan individu tersebut tampil sebagai sosok khalifatullah.
Perjuangan ialah kesungguhan dan ketekunan himpunan dalam melaksanakan perubahan pada kehidupan masyarakat dalam melaksanakan ajaran Islam secara bertahap dan konsisten diseluruh aspeknya. Perjuangan ditunjukkan dalam sikap keberpihakan terhadap pihak-pihak yang benar dan tak meninggalkan kaum mustadha’afien. Juga melalui keteladanan dalam kehidupan yang Islami.
Pengader HMI ialah sosok dengan kepribadian yang utuh, sebagai pendidik, pemimpin, dan pejuang (mujahid). Dengan demikian setiap insan pengader HMI terlibat dalam proses idealisasi menuju citra diri, yang dalam aktifitas dan peranannya senantiasa diusahakan untuk merealisasikannya.
Ketiga hal tersebutlah yang kemudian menjadi signifikan dan harus senantias integral pada diri pengader. Dimana sebagai pendidik, pengader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai Islam. Sebagai pemimpin, pengader adalah penjaga ukhuwah islamiyah di kalangan kader-kader HMI, khususnya pengurus. Dan sebagai pejuang, pengader HMI menempatkan diri sebagai pelopor dalam melaksanakan amar ma’ruf nahy munkar, baik dalam dinamika intern HMI maupun lingkungan eksternal HMI.
Kesadaran akan arti pentingnya peran itulah yang kemudian secara ideologis menjadikan diri kader selalu menempatkan diri sebagai citra HMI. Baik terhadap kader maupun masyarakat sosial. Sehingga amanah perkaderan HMI tak sekedar dipahami ketika di forum formal belaka, melainkan juga mutlak untuk selalu diterapkan diluar forum formal juga.
Apa yang dikatakan psikolog Stephen R. Covey barangkali menjadi penting, bahwa jika kita ingin mengubah sebuah keadaan, maka yang harus kita rubah adalah diri kita terlebih dulu. Dan untuk merubah diri kita secara efektif, yang harus kita rubah adalah persepsi kita. Untuk bisa beramanah sebagai seorang pengader kita juga perlu mengingat peran muabid, mujahid, mujtahid, dan mujadid yang harus senantiasa kita bangun.
Pengader HMI harus senantias siap menjawab problematika diluar dirinya, sehingga konsekuensinya ia telah selesai dengan segala macam problematika internalnya. Atau setidaknya selalu memanajemen segala problematika dengan maksimal dan selalu dalam rangka mengamalkan ketauladanan terhadap kader-kader. Mengingat tujuan awal HMI ialah terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan Ulul Albab, juga pembentukan masyarakat yang diridhoi Allah, bukankah kita dituntut untuk selalu serius dan amanah.
Karenanya arahan Senior Course (SC) III HMI Cabang Wonosobo kali inipun, mencita-citakan sosok pengader yang memahami betul eksistensi dirinya dengan segala problematikanya, yang kemudian mampu memahami perannya sebagai pengader dan mampu bertanggung jawab penuh terhadap amanah perkaderan HMI, dan semoga Ramadhan menjadi moment bermakna dalam upaya tersebut.
Semoga seorang pengader merupakan orang-orang yang selalu berjuang dengan bimbingan dan tuntunan Allah karena keikhlasan dan ketulusan untuk senantiasa memaknai langkah perjuangannya. Semoga tujuan cita-cita dan tujuan HMI semakin dekat dengan semakin mendekatnya kita lewat peluang revolusi menuju kelahiran kembali di hari yang fitri kelak sehingga semuanya menjadi sinergis. Amiin

Landasan Kegiatan
1. Landasan Normatif
a. QS. Ash Shaff (61): 11-12
b. QS. Lukman (31): 13-17
2. Landasan Konstitusional
a. AD HMI pasal 5 tentang Usaha
b. ART HMI pasal 5 dan 6 tentang Hak dan Kewajiban Anggota
c. Pedoman Perkaderan HMI
3. Landasan Operasional
Program kerja Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Wonosobo

Tujuan Kegiatan
Senior Course ini bertujuan:
1. Membina kader menjadi sosok pengader yang mampu Mengoptimalkan perannya sehingga terbangun kepribadian yang utuh dan siap menjadi tauladan dalam proses-proses perkaderan HMI.
2. Membina kader yang mampu memahami pola dasar pelatihan HMI sebagai salah satu pendidikan alternative atau membebaskan dan mampu mengelolanya.
3. Memberi bekal para pengader dalam menggawangi proses perkaderan.

Target Kegiatan
1. Terbinanya pengader yang mampu mengoptimalkan perannya.
2. Terbinanya pengader yang memahami pola dasar pelatihan HMI dan mampu mengelolanya.
3. Terbekalinya para pengader dalam menggawangi proses perkaderan.

Sasaran Kegiatan
Sasaran kegiatan ini adalah para kader HMI yang telah lulus LK II dan yang sudah siap untuk menggawangi proses perkaderan terutama di lingkungan HMI Cabang Wonosobo.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Pendaftaran dimulai tanggal 1 – 9 September 2008
2. Seleksi dilaksanakan pada tanggal 10 – 11 September 2008
3. Pengumuman kelulusan pada tanggal 11 September 2008
4. Pelaksanaan Senior Course pada tanggal 12 – 15 September 2008
Tempat pelaksanaan di Wonosobo.

Syarat Peserta
Untuk menjadi peserta Senior Course (SC) III Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Wonosobo, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Kader HMI yang telah lulus LK II yang ditunjukkan dengan sertifikat atau Rekomendasi pengurus Cabang.
2. Mengikuti dan lulus seleksi yang telah ditetapkan Tim Seleksi SC.
3. Siap menjadi pengader dengan konsekuensi logisnya.
4. Membuat makalah sesuai tema Senior Course (SC) III; minimal 3 lembar kuarto/ A4, font Times New Roman ukuran 12, margin top 3 left 3 right 2,5 dan bottom 2,5 cm.

Penutup
Demikian Term of Reference ini dibuat, semoga dapat menjadi acuan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan semoga Allah SWT., meridhoi pelaksanaan Senior Course (SC) III Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Wonosobo. Amiin

Wonosobo, 6 Ramadhan 1429 H
6 September 2008 M

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABANG WONOSOBO
KORP PENGADER



MUHAMMAD IRKHAM
KETUA

MUHAMMAD HARDIK
SEKRETARIS

selengkapnya.....

22 Agustus 2008

Info Cabang

HMI Purwokerto Akan Gelar SC

HMI Cabang Purwokerto dalam dalam waktu dekat akan mengadakan Senior Course (SC) pada awal September 2008 (1-3). Dari Informasi yang kirim Panitia SC menjelaskan bahwa acara tersebut akan berlansung selama kurang lebih tiga hari dengan beberapa materi yang sudah dipersiapkan. Pendaftaran dan screening akan dimulai pada 29-31 Agustus 2008. Adapun tema yang diusung kali ini adalah “Optimalisasi Peran Pengader Sebagai Bagian Dinamisator Perkaderan Dalam Mewujudkan Masyarakat Cita HMI. Selain itu, panitia juga melampirkan beberapa persyaratan yang harus dipenui oleh peserta dan juga jadwal kegiatan yang terdiri dari materi dan narasumber. Untuk info lebih lengkap mengenai SC HMI Cabang Purwokerto, kami lampirkan term of refference (TOR) pada bagian selanjutnya, silahkan klik

TERM OF REFERENCE
SENIOR COURSE
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABANG PURWOKRETO

A. Pendahuluan

“Optimalisasi Peran Pengader Sebagai Bagian Dinamisator Perkaderan Dalam Mewujudkan Masyarakat Cita HMI”

Kesempurnaan Dienul Islam sebagai pedoman dan pandangan hidup merupakan rahmat Alloh SWT, sekaligus merupakan realisasi kehendak Illahi bagi tuntutan kesempurnaan keberadaan manusia sebagai khalifah-Nya di dunia. Manusia selain telah dibekali kecenderungan kepada nilai fitrah, pada dasarnya mempunyai kebutuhan akan Dienul Islam. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi manusia, dengan segala nilai fitrahnya, menuju atau mengikuti Dienul Islam dan mengejawantahkannya dalam bentuk perjuangan, Harakah Islamiah.
Dalam relalisasinya, Dienul Islam akan selalu berhadapan dengan berbagai tantangan. Persoalan mendasar umat manusia dewasa ini adalah krisis peradaban dunia. Terutama pertentangan nilai dan keyakinan yang terefleksi dalam ideologi sosial, cara berpikir dan tradisi (kultur). Pada pertentangan ideologi sosial, dunia akan tetap menempatkan Islam sebagai rival, sebab secara normatif Islam akan berhadapan dengan ideologi sekuler dengan segala derivatnya. Paradigma matrealisme yang menjadi icon peradaban dunia saat ini melunturkan ketauhidan umat saat ini.
Sementara itu, umat Islam masih memiliki masalah internal berupa kurangnya sumber daya, terutama sumber daya manusia. Secara sosiologis, umat Islam masih dilanda krisis kepribadian dan ketidaksadaran akan eksistensinya, sehingga sampai saat ini umat Islam belum mampu untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada pihak lain.
Himpunan Mahasiswa Islam merupakan bagian integral dari umat Islam yang melakukan suatu proses bagi terciptanya salah-satu segmen perjuangan, yaitu sumberdaya manusia. Maka dari itu, perkaderan HMI tidak hanya untuk kelangsungan regenerasi internal, akan tetapi demi kepentingan umat secara menyeluruh. Hal ini sesuai dengan karakteristik HMI sebagai organisasi mahasiswa, organisasi perkaderan dan perjuangan.
Orientasi perjuangan secara langsung mensyaratkan terbentuknya kader-kader berkualitas sesuai dengan tugas yang diembannya. Dengan demikian HMI harus melahirkan kader-kader berkualitas, sosok ideal sebagaimana telah digambarkan dalam Al-Quran, yakni sosok Insan Ulil Albab. Lebih dari itu, perkaderan HMI sendiri merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dan sistematis untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan potensi anggota sehingga tercapai tujuan HMI.
Oleh karena itu, mekanisme perkaderan yang mencangkup sistem dan metode, sistematis dan strategis mutlak diperlukan beserta perangkatnya. Mekanisme perkaderan merupakan proses yang harus dilalui secara bertahap untuk mencapai tujuan HMI. Sementara sistem perkaderan merupakan keseluruhan komponen perkaderan yang memiliki kaitan fungsional dan dilaksanakan secara konsisten dan sistematis sesuai dengan landasan perkaderan. Dan terakhir, metode perkaderan adalah cara dan teknik yang dipilih untuk mengoptimalkan pendayagunaan perkaderan HMI.
Dalam hal ini, pengader mempunyai peran siginifikan dalam pembentukan arah dinamika perkaderan HMI. Sebagai bagian dari perangkat sistem strategis, pengader merupakan sosok dengan kepribadian utuh; sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang (mujahid). Dengan demikian setiap pengader HMI mempunyai tanggung-jawab untuk terlibat dalam proses idealisasi menuju cita diri, yang dalam aktifitas dan peranannya senantiasa sebagai usaha realisasi tujuan HMI.
Sebagi pendidik, pengader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai Islam. Pengader HMI mengharuskan menempatkan dirinya terlebih dahulu sebagai uswatun khasanah (suri tauladan). Islam menuntun agar seorang pendidik senantiasa satu kata antara lisan dan perbuatan, karena Alloh SWT melarang setiap muslim menuturkan sesuatu yang dirinya tidak melakukan, bahkan justru memulai sesuatu yang diajarkan dari dirinya (ibda’ binafsih).
Sebagai pemimpin, pengader adalah penjaga ukhuwah Islamiyah di kalangan kader-kader HMI. Pada posisi ini pengader harus berperan sebagai integrator dari setiap bentuk ‘konflik dan friksi’, yang timbul dikalangan kader HMI. Dalam posisi ini pula, pengader berperan sebagai pengamat perkembangan HMI guna mengidentifikasi permasalahan yang timbul serta berupaya mengusahakan pemecahannya secara konseptual maupun operasional.
Sebagai pemimpin, pengader menempatkan dirinya pada posisi kepeloporan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, baik dalam dinamika internal maupun eksternal HMI. Kepeloporannya dalam kerja kemanusiaan atau amal soleh merupakan tuntutan atas tanggung-jawab kemasyarakatannya dalam berbagai realitas kehidupan umat manusia. Langkah amar ma’ruf ini dilakukan untuk menggali potensi kreatif menjadi suatu bentuk amal soleh bagi kader-kader HMI maupun masyarakat. Sedangkan nahi munkar dilakukan untuk membendung potensi destruktif dari manapun datangnya.
Sebagai konsekuensi dari tiga sosok potensi yang padu, yakni pendidik, pemimpin dan pejuang, maka pengader merupakan insan yang memiliki kesadaran ideologis tinggi, ikhlas berjihad di jalan Alloh, istiqomah, memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang relevan dengan perannya sebagai perangkat utama perkaderan HMI. []

B. Pelaksanaan
Registrasi dan screening : 29-31 Agustus 2008
Waktu : 1-3 September 2008

C. Syarat
• Membuat makalah mengenai Tema SC atau tentang Perkaderan HMI, Max. 5 hal
• Sudah pernah mengikuti LK 2
• Membawa surat delegasi dari cabang bersangkutan


Lampiran Materi

Hari ke-I
Senin, 1 September 2008
08.00-12.00 WIB
Materi : Arah Umum Perkaderan HMI
Pembicara : Kanda Roni

13.30–17.00 WIB
Materi :Khittah Perjuangan dalam pergulatan perkaderan HMI
Pembicara : Syahrul E. D.

20.15– 24.00 WIB
Materi :Metodologi perkaderan HMI
Pembicara : Kanda Zubeir


Hari ke-II
Selasa, 2 September 2008
08.00 – 12.00
Materi : Study Umum tentang pendidikan
Pembicara : Bapak Mahfiudin Y

13.30–17.00
Materi : Citra diri dan kode etik pengader
Pembicara : Kanda Widayat

20.00 – 24.00
Materi : Manajemen pelatihan
Pembicara : Kanda Eko Cahyono

Hari III

Rabu, 3 September 2008

08.00 – 12.00
Materi : Psikologi komunikasi
Pembicara : Kanda Trisno S

13.30–17.00
Micro teaching

Pemandu
20.15-24.00
Penutupan

selengkapnya.....
Designed by - alexis 2008 | ICM