Tampilkan postingan dengan label Badko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Badko. Tampilkan semua postingan

18 Juli 2009

Musbadko Akan Digelar di Purwokerto

Inbagteng Cyber Media

Musyarawah Badan Koordinasi (Musbadko) ke-XXII HMI Badan Koordinasi Indonesia Bagian Tengah dalam waktu dekat akan digelar, tepatnya pada Sabtu–Minggu (25-26/7) di HMI Cabang Purwokerto. Acara ini akan dimulai pada Sabtu (25/7) pukul 08.00 WIB sebagaimana terlampir dalam Proposal Musbadko 2009 dan Undangan yang telah disebar ke seluruh cabang se-Inbagteng. Salah satu rangkaian kegiatan Musbadko adalah Stadium General dengan tema “Revitalisasi Perkaderan dalam Kerangka Pemberdayaan Ummat sebagai Upaya Perlawanan terhadap Neoliberalisme” dengan narasumber antara lain ; Formateur PB HMI, Supari, Azwar M. Syafii, Moh. Syafi’ie.

Musyawarah Badan Koordinasi adalah musyawarah utusan cabang-cabang di wilayah Badan Koordinasi yang diadakan 2 (dua) tahun sekali (Pasal 44 poin a). Kekuasaan dan Kewenangan Musyawarah Badan Koordinasi adalah memilih 3 (tiga) orang calon Ketua Umum dan menentukan haluan program kerja Badko (Pasal 44 poin b).


Kegiatan ini mengambil tema “Revitalisasi Perkaderan dalam Kerangka Pemberdayaan Ummat sebagai Upaya Perlawanan terhadap Neoliberalisme.” Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan bertujuan untuk membangun kapasitas manusia yang menerjemahkan nilai-nilai ke-ilahian demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang di ridhoi Allah. Kondisi yang terjadi pada saat ini di tubuh himpunan berada dalam titik yang sangat memprihatinkan. Sebuah kondisi dimana menurunnya kapasitas kader dalam beberapa kurun waktu terakhir ini. Memang ironi, jika kita melihat kebesaran himpunan yang dibesarkan oleh tradisi pemahaman ke-Islaman Pembangunan kapasitas kader merupakan hal yang paling utama bagi perbaikan kondisi ke depan.[pnt]

selengkapnya.....

15 Mei 2009

Badko Minta Delegasi Cabang Untuk SC Musbadko

Yogyakarta, (Inbagteng Cyber Media)

Semakin dekatnya agenda Kongres HMI di Yogyakarta mendorong Badan Koordinasi (Badko) Indonesia Bagian Tengah (Inbagteng) untuk segera membentuk Steering Committee (SC) Musyawah Badko (Musbadko) ke-XXII HMI Inbagteng Periode 1428-1430 H/2007-2009 M. Surat yang bertanggal 12 Mei 2009 itu telah dikirim ke Cabang-Cabang se-Inbagteng. Tiap-tiap Cabang diharapkan mendelegasikan 3 (tiga) orang. Kepastian delegasi ditunggu sampai Sabtu (16/05).

Musbadko sebagaimana diatur dalam konstitusi adalah musyawarah utusan cabang-cabang di wilayah Badan Koordinasi yang diadakan 2 (dua) tahun sekali yang kekuasaan dan wewenangnya adalah memilih 3 (tiga) orang calon Ketua dan menentukan Haluan Kerja Badan Koordinasi.

Sesuai dengan ketentuan di atas maka kami mohon HMI Cabang Se-Inbagteng untuk mendelegasikan maksimal 3 (tiga) orang yang akan menjadi SC Musbadko. Tugas SC ini
kedepannya akan merumuskan konsep dan akan bertanggungjawab atas pelaksanaan Musbadko. (ICM/red)

selengkapnya.....

14 April 2009

Perbedaan Geo Politik Menuntut Pembenahan Lembaga Internal HMI

(Hasil Rapat Pimpinan Cabang HMI Badko Inbagteng di Surabaya)


Surabaya, (Inbagteng Cyber Media)
Cakupan lembaga internal HMI Badan Koordinasi yang luas dan konteks geo politik yang berbeda menuntut perbaikan lembaga internal di HMI. Demikian ungkapan Moh. Syafi'ie ketua Badan Koordinasi Inbagteng berbicara dalam diskusi ”Memikir Ulang Eksistensi Lembaga Internal HMI” yang diadakan Jumat, 10 April 2009 di HMI Cabang Surabaya bertempat di Gedung Hidayatullah Surabaya.

Misalkan cakupan HMI Badan Koordinasi Inbagteng yang meliputi daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawat Timur dan Pontianak. Struktur kewilayahan di atas, menurut Syafiie jelas berbeda secara geo politiknya. Kepentingan pemegang kebijakannya berbeda sama sekali. Sehingga kondisi ini menyebabkan tersendatnya pola-pola komunikasi antar cabang yang ada dalam satu Badan Koordinasi. Apalagi saat ini jumlah cabang HMI semakin tambah banyak di Badan Koordinasi-Badan Koordinasi yang ada.

Perbaikan lembaga internal ini juga mendesak dilakukan ditengah himpitan ekonomi politik global yang kapitalistik. Wilayah yang berjauhan ditengah krisis finansial menjadi beban tersendiri bagi pengurus HMI Badan Koordinasi dan pengurus cabang jika ada pertemuan-pertemuan. Jika ada pertemuan yang diadakan pasti ada cabang yang tidak bisa hadir. Kendala ini bukan semata aspek internal yang tidak mau hadir tapi seringkali kendala eksternal, tempatnya berjauhan yang butuh stamina tinggi dan tentunya butuh biaya yang tidak sedikit.

Tugas HMI Badan Koordinasi yang berat karena harus menjaga kesehatan cabang-cabang di wilayahnya jelas akan mengalami kendala yang sangat berat ditengah kewilayahan yang tidak tertata, struktur geo politik yang berbeda-beda, dan kondisi cabang-cabang yang saat ini memang menghadapi problem akut akibat krisis sistem global yang berdampak krisis multimensi. Lembaga koordinasi dan terutama PB HMI dituntut lebih serius membaca kondisi yang sangat kelabu ini, ungkap syafiie.

Sepakat Pemekaran Badko
Dalam sesi tanya jawab, Puji Hartoyo ketua HMI Cabang Yogyakarta menyatakan bahwa memang sudah selayaknya HMI Badan Koordinasi itu dimekarkan. Cabang-cabang yang terus bertambah tapi lemah dalam pendampingan. Bayangkan sekarang cabang-cabang HMI di banyak daerah sudah ada sekitar 50 lebih tapi HMI Badan Koordinasinya hanya berjumlah empat. Jumlah Badko ini tidak sebanding dengan jumlah dan kepentingan-kepentingan cabang. Sehingga tidak mungkin berfikir keberadaan Badko akan menjawab kepentingan-kepentingan cabang yang jelas berbeda geo politiknya.
Nur salah seorang perwakilan dari HMI Cabang Malang mengungkapkan bahwa dirinya sepakat pembentukan Badko di HMI Jawa Timur. Karena secara geo politik Jawa Timur berbeda dengan Jawa Tengah, Yogyakarta dan Pontianak. Kita di Malang sangat kering dari wacana eksternal HMI karena tidak dari PB HMI yang datang kesini dan diskusi tentang wacana ke-HMI-an saat ini. Keberadaan HMI Badan Koordinasi Jawa Timur harapannya bisa menjawab pendampingan PB HMI di Malang. Termasuk keberadaan HMI Badan Koordinasi ini nantinya berfungsi bagi pengurus-pengurus cabang yang di Jawa Timur khususnya Malang dan Surabaya untuk masuk di struktur dan menyumbang ide-idenya dan perhatiannya yang selama ini masih belum tersalurkan dengan baik.
Sedangkan Awaluddin ketua Tim Kongres HMI cabang Yogyakarta mengatakan bahwa sudah jelas dari diskusi yang tadi kita butuh pembentukan HMI Badan Koordinasi Jawa Timur. Yang kita perlu pikirkan adalah bagaimana cara pembentukan? Sehingga persoalan ini tidak berlarut-larut. Syafiie yang menjadi pembicara menjawab bahwa jika teman-teman Jawa Timur sudah sepakat pembentukan HMI Badan Koordinasi maka tugas selanjutnya ini perlu dimasukkan dalam rekomendasi internal nanti sewaktu di kongres. Termasuk di internal Badko Inbagteng nantinya akan melakukan pembahasan di Internal dan akan dilanjutkan ke PB HMI, terang Syafiie.




Laporan Tim Kongres HMI Cabang Inbagteng
Seusai diskusi dilaksanakan acara kemudian berlanjut dengan rapat pimpinan cabang yang akan mendengarkan eksplorasi perkembangan diskusi-diskusi cabang-cabang di Badko Inbagteng menyambut pelaksanaan kongres HMI pada tanggal 21 Mei 2009 di Yogyakarta yang sudah tinggal lima mingguan.
Asnawi ketua HMI cabang Surabaya menuturkan bahwa untuk persiapan kongres HMI Cabang Surabaya sudah mengidentifikasi beberapa hal untuk menjadi usulan sewaktu di Kongres. Salah satunya terkait tentang masa keanggotaan HMI yang terlalu lama. 12 tahun lama keanggotaan bukanlah waktu yang sedikit tapi itu waktu yang sangat panjang sehingga perlu amandemen konstitusi.
Senada dengan Asnawi, ketua HMI cabang Surabaya Azwin mengungkapkan bahwa di Malang juga menginginkan adanya perubahan masa keanggotan di konstitusi. Masa 12 tahun bukan waktu yang sebentar tapi cukup lama. Padahal akademik lamanya tidak seperti itu. Ini harus ada penyesuaian dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada dilapangan.
Berbeda dengan Puji Hartoyo ketua HMI Cabang Yogyakarta, ia mengatakan bahwa logika masa keanggotaan itu memang tidak disandarkan pada dunia akademik. Tapi disandarkan pada jenjang pengabdian di Struktur HMI. Mulai dari struktur komisariat, struktur Koordinator Komisariat, struktur Cabang, struktur HMI Badan Koordinasi dan struktur PB HMI. Memang ideal ukuran 12 tahun itu, karena terkait dengan jenjang struktur yang ada di HMI. Harapannya setelah keluar dan menjadi alumni, dia menjadi kader yang betul-betul HMI, ungkap Puji Hartoyo.
Sedangkan Awaluddin ketua Tim Kongres HMI Yogyakarta menyatakan bahwa dia dan teman tim kongres di Yogyakarta sudah mengidentifikasi beberapa hal terkait dengan persiapan kongres. Pertama, HMI Yogyakarta tidak sepakat dengan perubahan nama HMI menjadi HMI-MPO. Kita bukannya tidak ingin memperjelas status tetapi kita ingin mempertahankan kebenaran yang tetap kita pegang dari awal. Perubahan nama jelas berarti kita sudah menyerah pada HMI-Dipo. Bagi HMI cabang Yogyakarta menetapkan nama HMI adalah bagaikan perjuangan hidup dan mati, jelas Awaluddin. Kedua, soal masa keanggotaan kayaknya kita masih sepakat untuk tetap. Ketiga, kita masih pada dataran teknis ada bebarapa bab dalam konstitusi yang tidak sesuai dengan materi babnya sehingga perlu ada perbaikan.
Ditambahkan Puji bahwa kita sepakat dengan kesepakat teman-teman dalam bahasan kemarin bahwa perlu perubahan pada penamaan komisi di PB HMI. Komisi logikanya perwakilan padahal kita bukan lembaga perwakilan seperti DPR. Ruh dan gerak organisasi seringkali terciderai dengan kewenangan komisi ini. Tau-taunya muncul kebijakan tanpa cabang-cabang ketahui isu dan pembahasannya. Dalam hal ini kita harus memikirkan ulang bagaimana struktur ini harus dibangun dan mencerminkan ruh organisasi yang dibuat bersama-sama.
Harapan besarnya sebagaimana diungkap Awaluddin kongres ke-27 di Yogyakarta ini tidak mengulang kesalahan yang lalu yaitu berdebat pada soal-soal yang tidak substansial. Kongres ini butuh bahasan yang lebih mendidik dan itu ada pada bahasan materi-materi pokok dalam komisi nantinya. Akhirnya diskusi dan Rapincab disudahi dan ditutup secara resmi oleh Moderator saudara Nur Ali.

selengkapnya.....

20 Agustus 2008

Activity

Temu Pengader se-Inbagteng Akan Segera Digelar


Berdasarkan surat yang dilayangkan kepada redaksi Inbagteng Cyber Media, Badko Inbagteng akan menggelar Temu Pengader HMI se-Inbangteng dan beberapa agenda lainnya pada 22-24 Agustus 2008 bertempat di HMI Cabang Wonosobo, Jawa Tengah.
Tujuan digelarnya acara ini adalah untuk melakukan kerjasama pengader antar cabang. Merumuskan bentuk evaluasi pengader secara berkala dan dapat terukur. Ruang dan sarana komunikasi dengan cabang–cabang mapan untuk berbagi pengalaman pengelolaan organisasi, dalam persoalan perkaderan.
Untuk mengetahui lebih jelas tentang agenda kegiatan temu pengader HMI se-Inbagteng, berikut kami lampirkan Term of Reference dan jadwal kegiatan.

Term of Reference Temu Pengader dan Out Bound
Himpunan Mahasiswa Islam Badan Koordinasi Indonesia Bagian Tengah

A. Pendahuluan

“Bila suatu kaum banyak berteriak, maka akan kaudapati kecerdikannya berada di tangan orang yang mengekang atau menarik mereka.” (Amr bin Ma’diikariba)

Tidak bisa kita pisahkan Himpunan Mahasiswa Islam dengan proses perkaderan – sebagaimana telah jelas dan terang diemban dari hasil Kongres – bahwa Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi perkaderan dan perjuangan. Itulah HMI. Siap, tidak siap, ketika telah dengan sadar menyatakan dirinya menjadi bagiannya maka menjalankan perkaderan adalah tugas yang diembannya. Yang kalau kita runut ke belakang, merupakan tugas dan fungsi manusia itu sendiri ketika mengembang amanah Allah Swt untuk hidup di dunia ini.
Memakmurkan bumi, mengelolanya dengan baik, memanfaatkan apa yang ada dengan tidak serakah, berjalan di atasnya tidak dengan sombong atau bahasa yang lainnya menjadi satu hal yang wajib bagi manusia semuanya. Kehidupan adalah amanat yang diembannya. Untuk bisa melakukan apa yang diembankan, manusia telah diberikan banyak keutamaan dari makhluk yang lainnya. Belajar merupakan satu hal niscaya dilakukan untuk kehidupan ini sehingga perkaderan HMI adalah sebuah keniscayaan organisasi yang memandang Islam sebagai landasan geraknya.
Ketika kita berhimpun maka, pada dasarnya menyadarkan kembali akan eksistensi manusia di atas bumi, namun dengan banyaknya tantangan dan cara pandang yang positivistik telah menghegomoni kehidupan manusia hingga ia menjadi makhluk yang tidak merdeka dan terbelenggu oleh kekuatan bendawi. Kapitaslisme, materialisme, feodalisme, kediktatoran, liberalisme dan neo liberalisme serta isme-isme yang lainnya menjadi tantangan nyata bagi manusia saat ini. Semua persepsi dan cara pandang tersebut meniscayakan semakin terlindasnya kaum mustadzhafin secara struktural, yang pada gilirannya semakin membuat kehidupan tidak lagi harmonis, terkotak-kotak serta banyak permasalahan sosial, ekonomi dan lainnya.
Selain permasalahan tersebut, dalam proses perkaderan pun, masih banyak pe-er yang harus digarap. Kader HMI mengalami perasaan rendah diri (inferioritas) atau kurang percaya diri. Persoalan seperti ini mesti ditangani secara serius agar kedepan militansi kader tetap terjaga dan eksistensi organisasi terus berkembang. Ketika perkaderan dijadikan proses menuju Insan Ulil Albab, maka pertanyaan yang kemudian timbul adalah “Apakah tujuan tersebut sudah bisa dicapai oleh proses perkaderan di HMI?” Sebuah pertanyaan besar yang sampai saat ini masih juga perlu dipertanyakan terus. Apalagi kalau kemudian dicerminkan dengan persoalan bangsa kita ini – dimana banyak alumni HMI yang menduduki jabatan teras negara – justru permasalahan KKN saja sampai saat ini belum kelar atau malah semakin menjadi-jadi.
Bukan saatnya lagi kita untuk saling menyalahkan. Mari berinstropeksi diri kita masing-masing. Menemukan akar permasalahan perkaderan menjadi tanggung jawab kita yang “dianggap lebih tahu” tentang perkaderan. Karena kita telah sadar dengan perkaderan harus melahirkan kondisi-kondisi sebagai berikuti:
1. Kesinambungan dan peningkatan kualitas perjuangan misi Islam.
2. Kesinambungan dan kedinamisan kepemimpinan HMI.
3. Kesinambungan dan pengembangan perjuangan HMI.
4. Konsistensi pemahaman perjuangan HMI.
5. Peningkatan peran-peran personal kader dan kelembagaan.


Pengader yang tangguh
Begitu banyak pedoman-pedoman di HMI yang menjadi acuan kita berorganisasi, amanah kongres tersebut seringkali terlupakan oleh diri kita yang menyatakan sepakat dan menyetujui aturan tersebut. Kalau bukan kita yang melaksanakan, maka siapa lagi yang akan melaksanakannya. Menjalankan organisasi bukanlah pekerjaan yang mudah, banyak tantangan yang dihadapinya. Namun demikian, Perkaderan harus tetap berjalan sehingga krisis kader dan pengurus dapat teratasi, atau bukan sekedar hal tersebut, tapi Fungsi perkaderan dapat berjalan sebagai mana mestinya sehingga tujuan bisa tercapai.
Pengader mempunyai peran yang tidak sedikit dalam proses perkaderan, walaupun calon kader ataupun kader bukanlah objek semata dalam perkaderan. Sosok pengader yang telah digariskan dalam Pedoman Pengader adalah sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang (Mujahid). Sehingga konsekuensi diri pengader adalah insan yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad di jalan Allah Swt, istiqomah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan tugasnya. Sangat ideal bila hal ini dapat tertanam dalam diri pengader untuk bisa mengemban misi perkaderan.
Salah satu ayat yang dijadikan rujukan HMI dalam tetapan tujuannya menjadi Insan Ulil Albab berbunyi : ”Katakan: ”Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah [5] : 100). Dimana ulil albab disandarkan kepada pembelaan kebenaran walaupun tidak banyak yang melakukannya. Jika kita menghayati perkaderan dan perjuangan HMI maka tidaklah lepas dengan gerakan yang dilakukan Rasul Muhammad Saw untuk menyebarluaskan Islam sebagai petunjuk manusia di muka bumi ini, untuk menegakkan kodrati alamiah manusia, memerdekakan manusia pada segala bentuk penindasan “tuhan-tuhan” yang bergentayangan serta ajaran yang berkesesuaian dengan kebenaran hati nurani.
Himpunan yang beranggotakan entitas mahasiswa yang mengutamakan intelektual sebagai ladang gerakannya harus mampu membaca ayat-ayat yang telah Allah ciptakan dan dijadikan sebuah tawaran konsepsi keilmuwan yang harus mampu memecahkan permasalahan realitas kehidupan manusia, sehingga mampu diimplementasikan pada konteks realitas kehidupan yang ada. Dalam konteks ini, pengader haruslah mampu berdakwah untuk membela kebenaran yang didahului dengan memilah-memilih antara yangbaik dan buruk. Seperti yang dulu pernah dilakukan oleh Rasul Muhammad SAW setelah mendapatkan wahyu Allah SWT melalui perantara jibril. Muhammad SAW dapat menangkap wahyu tersebut dan didawahkan menjadi hukum-hukum yang mengatur umat-nya terdahulu.
“ Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, (dengan membawa tugas) membacakan kepada mereka tentang ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi itu), mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata” (QS. Ali Imran : 164).
Oleh karena itu, terus mengemban misi kerasulan adalah sebuah keniscayaan yang dilakukan bukan hanya para pengader semata, tetapi juga seluruh kader HMI. Namun demikian – untuk menjadikan kader yang militan – keteladanan yang telah tercantum sebagai asas dalam Pedoman Pengader - untuk kembali kita renungkan bersama. Asas keteladanan, artinya bahwa perkaderan itu harus memperhatikan aspek–aspek keteladanan sebagai faktor penting dalam proses perkaderan pada umumnya dan pelaksanaan asas–asas perkaderan lain khususnya.
Bagaimana menjadikan pengader yang tangguh sebagai mana gambaran “Kuda Perang” dalam surat Al-‘Aadiyat dalam melawan musuh-musuh yang ada dalam konteks saat ini harus dicoba dan menjadi hikmah bagi kader HMI. Demi kuda perang yang berlari kencanng dengan terengah-engah. Kuda yang memercikkan bunga api dari cetusan (telapak kakinya). Kuda yang menyerang di waktu pagi (subuh). Derap langkahnya menerbangkan bedu. Maka menyerbulah ia ke tengah-tengah kelompok musuh.

B. Tujuan

Adapun kegiatan ini bertujuan antara lain:
• Untuk melakukan kerjasama pengader antar cabang.
• Untuk merumuskan bentuk evaluasi pengader secara berkala dan dapat terukur.
• Adanya ruang dan sarana komunikasi dengan cabang–cabang mapan untuk berbagi pengalaman pengelolaan organisasi, dalam persolan perkaderan.

C. Pelaksanaan

Jum’at, 22 Agustus 2008
16.00 – 17.30 Sampai di tempat tujuan
17.30 – 20.00 Ishoma
20.00 – 24.00 Pembukaan, Perkenalan dan penyampaian perkaderan di masing-masing cabang

Sabtu, 23 Agustus 2008
08.00 – 12.00 Diskusi “Menatap Perkaderan Umat” bersama Bp. Mahmud
13.00 – 15.00 Kodifikasi permasalahan perkaderan dan rencana tindak lanjut

15.00 – 15.30 Sholat Ashar
15.30 – 17.00 Lanjutan Acara
17.00 – 20.00 Ishoma
20.00 – 24.00 LDMI

Ahad, 24 Agustus 2008
06.00 – 10.00 Outbound
10.00 – ………Penutupan dan Sayonara


selengkapnya.....
Designed by - alexis 2008 | ICM