Tampilkan postingan dengan label HMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HMI. Tampilkan semua postingan

13 Maret 2010

HMI Inbagteng Bersuara di TVRI "Aksi Mahasiswa Yang Damai"

(HMI-ICM) Pada Hari Selasa, 8/03/2010 Puji Hartoyo Selaku Sekretaris HMI Badko Inbagteng di undang oleh TVRI Yogyakarta. Dalam acara "Dialog Publik" yang bertemakan Menggagas Aksi Mahasiswa Yang Damai, pada saat itu hadir sebagai panelis kedua, Ari Sujito Sosiolog yang juga Dosen UGM. Dalam perbincangan yang cukup hangat sekitar 60 Menit. Puji Hartoyo mendapatkan kesempatan pertama untuk berkomentar, "fenomena aksi Chaos antara mahasiswa dengan aparat keamanan, jika kita flashback ditahun '66 aksi tritura, tahun '74 yang kita kenal dengan peristiwa "Malari" dan reformasi '98 dimana aksi-aksi tersebut telah banyak memakan korban di pihak mahasiswa, sehingga dinamika aksi demonstrasi masa kini yang berujung hingga kerusuhan itu sesuatu yang dapat dipahami". Ari Sujito menambahkan "Demostrasi adalah sebuah Penggalangan masa, sehingga sangat dimungkinkan dari sekumpulan masa dapat sewaktu-waktu terjadi konflik karena disebakan heroisme masa yang terkadang sulit untuk di kontrol oleh Perangkat aksi". Moderator mencoba menarik pada fenomena aksi yang ada sekarang seperti kasus yang ada di Makasar, mengapa sampai terjadi kericuhan.

"Aksi yang terjadi di makasar, menurut pandangan saya itu sudah melampaui kewajaran, sebab disertai dengan pemblokiran jalan, perusakan hingga memancing kemarahan masyarakat dan saya juga membaca ada unsur-unsur kepentingan yang bermain" ujar Puji Hartoyo menanggapi pertanyan. Dari Ari Sujito, "Menurut penilaian saya kerusuhan yang terjadi di Makasar akibat aksi mahasiswa itu bukan "gerakan ekstra parlementer yang intelektual"
Sebelum acara ditutup Puji Hartoyo membuat pernyataan klarifikasi aksi di Makasar dan di beberapa kota lain yang dilakukan HMI yang menuai kerusuhan adalah yang dikenal dengan HMI-Diponegoro (HMI-Dipo), bukan HMI yang berada dalam koordinasi kami yaitu HMI- Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO). Puji Hartoyo menambahkan," Saya menjamin bahwa aksi yang dilakukan HMI-MPO diwilayah koordinasi kami terkait dengan "Kasus Century" berlangsung damai. "Seharusnya aksi mahasiswa mengedepankan "Pesan dalam Aksi" dan Tidak Mudah terprovokasi dengan hal-hal yang menyebabkan pesan aksi menjadi kabur, kemudian ia juga melihat bahwa keadaan saat ini berbeda dengan era-orde baru sehingga aksi yang di selimuti dengan kekerasan tidak relevan lagi perlu adanya modifikasi atau kreatifitas supaya aksi dapat menarik simpati masyarakat dan berlangsung damai".
Kesimpulan dari moderator Mahasiswa seharusnya dapat lebih dewasa dalam melakukan aksi karena mahasiswa adalah kaum intelektualnya masyarakat untuk menyampaikan aspirasi pada pemerintah, sehingga ia menghimbau agar aksi mahasiswa dikemudian hari dapat berlangsung dengan damai.

selengkapnya.....

24 Februari 2010

Kader dan "Guardian" Konstitusi HMI

(HMI-ICM) Musuh utama kebenaran bukanlah institusi-institusi dari pembawa kebenaran tersebut seperti lembaga, negara ataupun ritus-ritus kebenaran, tapi adalah "ketersembunyian" dan "ketertutupan" (Martin Heidegger). Apa sebenarnya pesan dibalik kata-katanya tersebut secara filologi ia ingin mengatakan bahwa seringkali kita menggap musuh kita yang paling jelas adalah institusi-institusi pembawa kebenaran-kebenaran. Pada hal jauh secara strutural musuh dari kebenaran adalah ketika ada yang di sembunyikan atau ketertutupan pada kebenaran itu sendiri. Ketersembunyian dan ketertutupan ini orang sering menggap itu adalah "kesalahan" sebagai oposisi biner dari kebenaran padahal bukan itu yang dimaksudkan dengan keduanya, yang dimaksudkan Heidegger dengan ketersebunyian dan ketertutupan dalam arti sebenarnya


Sebuah kebenaran mungkin juga tidak selamanya akan benar mungkin juga salah, tapi ketersembunyaian dan ketertutupan adalah bentuk "penghianatan pada kebenaran" karena ia walaupun ia berada dalam struktur kebenaran namun ia secara diam-diam, ia menjadikan sebuah kebenaran tidak lagi menjadi kebenaran yang sesungguhnya. Selain itu ketersembuayian dan ketertutupan juga merupakan bentuk "manipulatif kebenaran" yang membuat suatu kebenaran bisa menjadi sesutu yang arbiter bahkan menjadi paradox karena disatu sisi ia bisa mejadi "kebenaran" namun disisi yang lain ia menjadi "kesalahan".

Beberapa ilustrasi di atas tentunya ini menjadi gambaran bagaimana sebenarnya kita sebagai kader HMI tidak perlu membuat ketersembunyian dan ketertutupan pada kebenaran dalam organisasi ini, bisa dikatakan ini adalah sebuah bentuk penghianatan pada kebenaran. Sudah terlalu banyak ketertutupan dan ketersebunyian dalam negara ini di HMI kita diajarkan untuk belajar mengatakan yang sebenar-benarnya tentang suatu kebenaran, bukan manipulatif-manipulatif dari kebenaran untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dalam pencapaian cita-cita HMI. Sebagai organisasi yang cukup berumur kita sudah banyak belajar tentang bentuk-bentuk penghianatan dalam organisasi ini ataupun di negara ini akankah kita menambah penghianat-penghianat baru kedepannya. Bentuk kebenaran yang kita punya mungkin hanya konstitusi yang merupakan buat manusia yang memiliki kurang dan lebihnya, tapi sebagai organisasi yang menjujung kebenaran kolektif yang kita rumuskan bersama tentu saja ini tidak boleh dihianati oleh kader HMI sendiri.

Setiap kader adalah "Guardian" Konstitusi HMI, ini sebagai konsekwensi logis ketika masuk dalam organisasi ini mungkin itu berat dan memaksa. Tapi sebagai mana kata Satre "Manusia bertanggung jawab dengan Eksistensinya sendiri, setiap eksistensi yang dilakukannya cepat atau lambat akan berpengaruh pada eksistensis orang lain". Apa lagi kita telah terikat pada kostitusi kita, ini akan membuat kita akan semakin lebih berhati-hati lagi pada setiap tindakan kita karena setiap tindakan kita adalah cermin sejauh mana kita telah mengamalkan konstitusi kita. Sehingga tidak perlu ada penghianatan pada konstitusi kita ini kepada setiap kader, karena ini sama saja kita menghianati eksistensi kita sendiri dalam organisasi ini. Tanggug jawab yang lain selain kita bereksistensi dalam kostitusi HMI, tentu saja kita sebagai kader kita juga harus menjaga konstitusi dari bentuk penistaan apapun juga sebagai kader kita tidak bisa tinggal diam ketika konstitusi sebagai kristalisasi gagasan kita bersama sebagai kader dihianati oleh siapapun juga termasuk kader kita sendiri. Tugas kita adalah saling mengigatkan sesama kader bersama-sama menjaga dan mempelajarinya dengan penuh tanggung jawab. Ini sebagai bentuk janji kita menjaga eksistensi organisasi ini sampai kapanpun juga.

HMI akan tetap ada sebagai organisasi yang eksis, selama setiap kadernya menjaga konstitusinya, karena hanya inilah bentuk ikatan kita yang utama dalam organisasi ini. Tanpa konstitusi kita akan terpecah belah dalam eksisitensi kita masing-masing, sehingga tidak ada lagi "himpunan" dalam organisasi ini yang ada hanyalah individu-individu tanpa ikatan yang tidak jelas baik secara ideologi maupun visi dan misi (cita-cita). Satu lagi bentuk simbolis yang harus kita pahami adalah bentuk simbol/lambang HMI yang berbentuk "perisai" dari zaman dahulu perisai adalah lambang/berarti "perlindungan" apa arti itu bagi setiap kader. Artinya bahwa sebagai kader HMI kita harus terus menjaga HMI sampai kapanpun tidak terkecuali dengan yang ada didalamnya termasuk konstitusi, sehingga bagi siapa saja baik kader maupun bukan,. baik ia pemimpin HMI ataupun kader baru siap saja yang mencoba mengingkari segala kebenaran dengan menjadikanya tersembunyi atau tertutupi kita pantas untuk bertindak dan menggugatnya sebagai bentuk kita menjaga eksistensi HMI.

selengkapnya.....

29 Juli 2009

Melawan Neolib Dengan Paradigma

Purwokerto, Inbagteng Cyber Media.


Musyawarah Daerah ke-XXII HMI Badko Indonesia Bagian Tengah berlangsung meriah. Bertempat di Purwokerto, 25-26 Juli 2009. Beberapa cabang hadir diantaranya HMI cabag Wonosobo, Purwokerto, Yogyakarta, Sleman, Purworejo, Semarang dan Surabaya. Dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Umum PB HMI dan dilanjutkan dengan stadium general yang mengangkat tema “Revitalisasi Perkaderan dalam rangka Pemberdayaan Umat Sebagai upaya Perlawanan terhadap Neoliberalisme”. Hadir sebagai pembicara Ketua PB HMI Khozin dan Ketua HMI Badko Inbagteng Moh. Syafi’ie.

Dalam pemaparannya Khozin menyatakan bahwa isu perlawanan terhadap neo liberalisme sebenarnya sudah tidak asing lagi di Indonesia. Gerakan melawan neoliberal sudah dimulai sejak lama. Tapi saat ini penting dihidupkan kembali karena dampak kebijakan neoliberal memang terasa menghimpit ekonomi rakyat Indonesia, ungkap Khozin.

Sedangkan Syafiie lebih mengupas soal perihal perjuangan dan perkaderan di tubuh HMI. Menurutnya perjuangan dan perkaderan HMI sudah sangat memprihatinkan. Perkaderan lumpuh karena memang tidak ada perhatian yang serius dari struktur HMI. Dan konteks perjuanganpun mati akibat tidak adanya isu bersama yang diangkat dari basis gerakan HMI, lebih banyak isu yang dibuat oleh elit dan tidak berbasis, ungkap Syafiie

Kedua pembicara sepakat bahwa neoliberal merupakan musuh bersama. Neoliberalisme menurut keduanya menjadi sentrum persoalan munculnya krisis kemiskinan, krisis kemanusiaan dan termasuk menjadi salah satu penyebab pelemahan semangat perjuangan gerakan.

Dalam sesi tanya jawab salah seorang peserta Dimas dari Purwokerto berpendapat bahwa konteks neoliberalisme sangat susah untuk dilawan. Kita butuh positioning dan fokus perlawanan yang lebih terarah. Salah satunya adalah lewat pembentukan paradigma atau cara pandang gerakan. Neolib susah dilawan karena paradigma kita telah dihegemoni oleh Neolib, ungkap Dimas berapi-api.

Stadium general berlangsung menggairahkan. Harapan-harapan akan hadirnya isu alternatif gerakan menjadi isu bersama yang penting. Termasuk pengharapan dari peserta akan keseriusan PB HMI untuk memperhatikan persoalan perkaderan sehingga etos juang kader akan bisa dijaga.Rata Penuh


selengkapnya.....

05 Juni 2009

HMI Untuk Gerakan Intelektual


Shofa Brayat Butuh
Mantan Sekum HMI Badko Inbagteng
CEO Warung Madu "UD AN-NAHL" di Sragen

'Bila kader HMI-MPO ditanya:
"Apakah HMI masih relevan untuk hidup?", Jawab saja: Ya karena sekarang saya suruh ngurusi HMI, ya sudah saya urusi saja HMI sekualifaid mungkin. Titik!.
(Ngapain ngurus mati-hidup, asal kerja maksimal kalaupun akhirnya harus mati Insya Allah khusnul khotimah)

Sekelebat Sayap Sejarah (Problem Setting)
Gerakan mahasiswa dalam memposisikan diri terhadap kekuasaan secara garis besar ada dua macam: patron-clien dan oposan/independen. Era Reformasi yang telah berjalan sepuluh tahun lebih dapat memberi gambaran akan hal itu. Era Orde Baru mahasiswa dipaksa apolitIa, sedemikian sehingga kejengkelan rriahasIawa memuncak dengan memaki kekuasaan dan meruntuhkannya di awal 1998. Pertanyaannya apakah mereka memaki kekuasaan karena memang dalam rangka sibghoh mahasiswa sebagai penjaga gawang moral, sebagai sang pengawas penguasa atau karena memang makin tidak kebagian kue kekuasaan?! Nampak jelas ujudnya ketika Reformasi.

Sejak Pemilu 1999 Organisasi Kemahasiswaan (Ormah) mayoritas gagap dalam berhadapan dengan kekuasaan. Secara nyinyir nampak jelas aktifis-aktifis yang dulu memaki penguasa berusaha berebut ke Senayan bahkan Istana. Ormah lupa diri bahwa reformasi amatlah rapuh, maka absurd bila diperebutkan. Ormah terjebak dalam patron-clien dengan parpol. Secara sederhana bisa saya sebut: PMII dengan PKB, IMM dengan PAN, HMI-DIPO dengan Golkar, KAMMI dengan PKS. Maka sangat wajar HMI-MPO dikunyo-kunyo saat itu, waktu era Gus Dur demo di berbagai kota dibubar paksa, gara-gara meneriakkan Cut Generation, Revolusi Sistemik, Reformasi Gagal Total yang benang merahnya hingga kini kita masih menolak sistem pemilu.
Ide Cut Generation bukanlah ide main-main saat itu. Prof. DR. Syafii Ma'rif yang kala itu masih Ketua Umum PP Muhammadiyah berujar, yang merusak negeri ini tidak lebih dari 3.000 orang yang kini tengah duduk di pos-pos urgen di negeri ini, orang itu perlu dihapus dan untuk masa transisi penyelenggaraan negeri bisa diberikan pada orang¬-orang pilihan dalam sebuah wadah dewan presidium, yang bertugas menyusun negeri ini dengan ideal. Jadi jalannya harus extra ordinary. Dan ide beliau pernah menjadi headline di harian Kedaulatan Rakyat tetapi selanjutnya pasti bisa kita duga, ide brilian beliau ini dengan segera dibungkam. Hanya tinggal HMI-MPO yang menyuarakannya, dan itupun lama-kelamaan juga hilang. Entah karena kadernya kehabisan nafas, tidak tahu sejarahnya sendiri karena mIakin silaturrahmi atau mungkin juga mulai pingin deket-deket yang berkuasa karena gak tahan dibilang kuper?!
Disingkirkannya HMI-MPO oleh ORBA dari kancah keindonesiaan adalah blessing in disquise, sedemikian sehingga para kader bisa lebih terarah menggarap sesuatu yang paling penting dalam merancang perubahan secara luar biasa suatu bangsa bahkan civilitation yakni paradigma. Maka tema-tema Epistemologi, Peradaban, Gerakan Intelektual menjadi makanan harian para kader. Efeknya cukup mengembirakan, bukti bahwa seseorang kader mampu berpikir epistemik adalah nyambungnya antara apa yang Ia pikir dengan apa yang Ia lakoni.
Thomas Khun dalam memeri Revolusi Prancis dapat kita ambil pelajaran bahwa tidak sekedar orang-orang anti gereja yang mulai menguat secara ekonomi-politik maka revolusi bisa terujut, tapi lebih daripada itu masyarakat Prancis nyatalah telah bergeser cara pandangnya (shifting paradigm) dari teokrasi ke demokrasi. Khun memberi penjenjangan dalam pergeseran paradigma, dia katakan dari Paradigma I ke Paradigma II. Untuk I ke II, ceritanya kurang lebih adalah ketika Paradigma I establish maka pada satu titik masa tertentu akan mengalami "anomali", bila anomali ini terus berlanjutkan akan melahirkan "krisis", nah ujung dari krisis adalah berakhirnya Paradigma I dan berpindah ke Paradigma II. Kemudian anomali lagi, krisis lagi lahir Paradigma III, begitu seterusnya.
Pertanyaannya adalah jika saat ini status quo adalah Paradigma I maka siapa yang menyiapkan Paradigma II? Apakah selanjutnya ini juga blessing in disquise?!, Tentu konyol kalau berpikir seperti itu. Menurut Ali Syariati, orang-orang itu ialah Rausyan Fikr. Saya lebih cocok terjemahan Yudi Lathif, rausyan fikr adalah "kelompok yang menyimpang" (terjemahan yang umum dalam Indonesia: kelompok yang tercerahkan). la menyimpang, ketika khalayak masih hidup dengan Paradigma 1, Ia telah melakoni hidup dergan Paradigma II. Ini dekat dengan tesIa Arnold Toynbee bahwa mereka itulah "creative minority" .
Kelompok kecil yang kreatif, yang mampu mampu mendefinisikan apa itu hidup walau definisinya sungguh-sungguh berbeda dengan khalayak dan benar-benar dia lakoni dalam kehidupannya. Bukan berarti menyepi menyendiri, ada prinsip "keluar-kembali", Ia tetap keluar untuk mengkomunikasikan paradigmanya, dan bila ada benturan dan mulai ada kegoyahan maka Ia akan kembali guna lebih menyempurnakan kediriannya. Maka tunggulah ketika Ia tetap konsIaten dalam minoritas kreatif maka paradigmanya akan dianut pula oleh orang lain, dan bila itu berkembang terus dan menjadi paling besar maka akan muncul "creative majority", dalam bahasa Khun telah bergeser ke Paradigma II.
Dari uraian di atas demikianlah pesan Rasul: idba' binafsi! Lakoni paradigma yang unik itu dari diri walau sendiri! Modalnya: berani, dalam bahasa Khittah Perjuangan (yang entah saat ini ikut terhapus atau tidak): syaja'ah. Itulah yang merubah wajah dunia. Bukan penguasaan ekonomi, bukan pula politik. Ini bukan mengada-ada, Indonesia ini walau dipakai sIatem apapun, oleh penguasa ;iapapun kalau paradigma masyarakat masih seperti ini, ya akan sepertIaeperti ini juga. Ini bukan pula sikap apatIa, apriori. Bahkan sebaliknya, sebuah himmah untuk mengajak yang baru, dan itu tidak mungkin, sekali lagi tidak mungkin bila tidak kita lakoni secara confident dalam kehidupan pribadi kita. Sebuah hidup yang merdeka, hidup yang independen, tidak goyah pada hura-hura kekinian, seperti syair Muhammad lqbal "aku bukanlah seruling bagi telinga¬-telinga kini, tapi dendangan bagi telinga-telinga masa depan".
Kuntowijoyo secara apik dan gamblang memaparkan bagaimana peradaban Ialam tidak pernah ditegakkan karena penguasaan politik apalagi sekedar penguasaan ekonomi. Bahkan dengan rIaau beliau mengkritik bahwa sejarah yang sampai dan dikupas bukanlah Sejarah Ialam tapi Sejarah Politik Ialam, tentang jatuh bangun para Sultan, perluasan wilayah, tentang sejarah perjalanan Ialam sendiri amat dangkal. Ini menjadi salah satu sebab umat Ialam selanjutnya mengidentikkan Ialam dengan kekuasaan, tetapi sekali lagi, dalam banyak Iaaenya (salah satunya dalam Isae: "6 Alasan Menolak Partai Ialam") : Kuntowijoyo mampu memaparkan secara acceptable dan epistemic bahwa bukan karena kekuasaan Ialam mendunia, termasuk perkembangannya di Indonesia.
TesIa beliau tentang "Obyektifikasi" memberi gambaran dari Tema-tema Besar Ialam (seperti zakat, dsb) bisa diturunkan kedalam Filsafat Sosial, secara kedalam bermakna ibadah, keluar rahmatan lil'alamin -tidak sekedar dinikmati umat Ialam saja-. Dari Filsafat Sosial diturunkan dalam Teori Sosial, kemudian dari sinilah Pak Kunto mengenalkan Ilmu Sosial Profetik (ISP), dan beliau amat yakin ISP ini bakal menggeser Ilmu Sosial Kritis beserta turunannya yang masih status quo bahkan dalam dunia akdemik. Beliau berujar, kalau mulai sekarang ISP mulai dipakai maka tahun 2020 ketika dunia global, Indonesia sudah slap karena telah mempunyai paradigma sendiri, dan konon dua bulan sebelum Pak Kunto meninggal, beliau berujar bahwa tahun 2020 ISP telah menjadi paradigma Ilmu Sosial di Indonesia. (demikianlah keilmuan Pak Kunto yang mampu saya sadap dari Supardi-Abu Isa Semarang)
Dengan Strategi Gerakan: Mobilitas Sosial (peningkatan kualitas manusia melewati penyadaran -kultural- dan pemberdayaan -struktural-), Pak Kunto menawarkan perubahan. Ini sungguh-sungguh selaras bila HMI memakai strategi gerakannya: Mobilitas Sosial, agendanya: Gerakan Intelektual. Tidak masalah para orang tua kita dahulu memilih Gerakan Intelektual sebagai agendanya karena terpaksa, tapi kita sadari bahwa itulah rekayasa Tuhan (karena sudah terjadi) dimana mengandung kebenaran yang luar biasa, terpilihkan sebuah agenda yang ternyata terbukti paling efektif dalam merubah (bahwa bila pingin merubah suatu bangsa maka rubahlah paradigma masyarakatnya lebih dahulu, inilah content dari Gerakan Intelektual). Jadi kader kini bisa memilihnya dengan sadar. Dan Gerakan Intelektual bukanlah sekedar gerakan dIakusi dan baca buku, tapi intelek yang belum bergeser dari makna aslinya yakni tidak hanya sekedar "tahu" tapi juga "mau"
Maka menjadi cukup mengelikan, bila kita sebagai kader HMI-MPO masih mempunyai pola pikir: bila pingin eksIa, maka harus berkuasa atau banyak kenalan tokoh-tokoh yang sedang memegang pos-pos negara, harus popular, harus banyak kenal orang-orang kaya atau banyak founding yang bisa kasih proyek. Bila itu benar-benar menjadi ijtihad HMI-MPO maka menurut saya sama saja HMI sedang menegakkan tiang gantungan bagi dirinya sendiri. Kekuatan HMI tidak terletak pada seberapa banyak fasilitas -sarana maupun network- yang dia punya (dunia milik), tetapi pada seberapa kuat dan tercerahkan pribadi dia (dunia diri). Sungguh banyak sudah yang mengakui hal ini, tidak sekedar alumni yang masih Istiqomah tapi juga pengamat yang jujur.
Nah, disini kita bisa menyimpulkan kenapa dulu HMI-MPO bisa sedemikian eksis?! Karena independensi tidak sekedar jargon organisasi, tetapi juga dilakoni dalam hidup kadernya. Contoh paling vulgar, adalah dalam maisyah, dulu kader inti tidak akan terpikir untuk jadi PNS, Broker Proyek/Broker Politik ataupun jadi Caleg karena memang tidak memungkinkan, sedemikian sehingga dengan segala upaya memompa potensi diri hingga lahirlah independensi, jiwa merdeka. Kemudian datanglah Reformasi, maka akan makin terlihat siapa kader inti sebenarnya?!!!

Selemparan Kemungkinan (Problem Solving)
Perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah karena manusia mempunyai "kemungkinan", makhluk lain tidak akan mampu mencipta kemungkinan hatta itu malaikat. Ketika masalah telah terpapar maka pertanyaan standar yang akan muncul adalah: what's next? Kita mau mengambil makna yang positif dari pertanyaan ini, bahwa pertanyaan itu muncul dari azzam yang ingin menyelesaikan problem seakurat mungkin.
Salah satu dasar dari problem solving yang harus dipegang disini, bahwa pemikiran kita harus besar dalam artian paradigma yang utuh dan selanjutnya tetap menjalankannya dari hal-hal yang menurut kasat mata mungkin kecil¬kecil, walau di Hadirat Rabbani tetap dinilai besar (think big-do small). Karena kalau ujuk-ujuk dari pemikiran besar kemudian kita harus berbuat yang besar pula, jelas sunatullahnya tidak begitu, walau sekali lagi besar-kecil itu masih dari ukuran manusia.
Dergan memohon perlindungan Allah dari sabetan nafs, saya ingin memulai bahasan bab ini dari ayat-ayat.

"Sesungguhnya Amrullah (perintah Allah) ketika Dia punya Irodah (kehendak) sesuatu, Dia tinggal mengatakan 'Kun' (Jadilah), inaka mereka pun menjadi." (QS. Yasin: 82)

"Pada hari itu kalian menyaksikan ibu-ibu yang sedang menyusui bayinya lupa akan bayinya (kelembutan moral hancur) dan ibu-ibu yang sedang haruil rnengalami keguguran (kekuatan fisik sirna) dan kamu akan melihat manusia dalam kondIai mabuk sedangkan mereka tidak sedang mabuk (ketajaman intelektual/akal tidak berjalan), akan tetapi (bila hal itu tidak terjadi, sebab seseorang tidak sanggup merespon Amr Allah) sungguh azab Allah itu sangat pedih." (QS. Al-Hajj: 2)

Ayat yang kesatu ada 3 tiga kata kunci: Amr, Irodah dan Kun. Sedang ayat kedua ada tiga kata kunci pula: Moral, Fisik dan Akal. Allah menciptakan alam seisinya, termasuk jasad manusia cukup hanya dengan KUN. KUN adalah Kaaf dan Nun, hanya dengan dua huruf ini maka terpaparlah jagad raya yang sedemikian luas ini. Pertanyaannya kemudian apakah kita hanya ingin sekedar menggapai dua huruf dari Allah itu saja, padahal masih puluhan atau mungkin ketakterhinggaan huruf-huruf Allah yang lain? Jawaban gamblang tersurat pula dalam ayat pertama di atas, bahwa kita musti masuk fase sebelum Kun yakni Irodah. Kun sampai ke kita dalam bentuk fenomena. Maka dibalik segala fenomena pasti ada Kehendak Allah, dan ketika kondIai itu hadir dihadapan kita Amr-lah ujudnya. (Ini menarik, sebagai intermeso, bila dilanjutkan untuk membahas para kader yang berkehendak memupus masa lajang)
Lalu bagaimana kita meraba kriteria Amr? Tiap persona sebenarnya akan ditawari Amr yang agung disamping amr-amr saban hari. Selama berani melatih diri keluar dari Kun dengan tidak menolak amr-amr kecil yarg hadir. Gampangnya, bagaimana kita bisa mengetahui Amrullah yang besar, kalau amr-amr yang kecil saja tidak mau ditempuh?!
Ayat kedua adalah dari surah al-Hajj. Haji adalah napak tilas perjalanan Ibrahim. Bagaimana kita bisa memahami surah tentang Haji kok dibuka tentang kiamat? Pertama harus kita pahami bahwa arti sesungguhnya kiamat tidak lepas dari arti dari akar katanya: qiyam (kebangkitan), dan memang tiap kebangkitan yang baru musti diawali dengan kehancuran-kehancuran lebih dulu (dekontruksi-rekontruksi). Maka Haji adalah gambaran kiamat sugro, dimana Ia telah tahu dan mau menerima apapun Amr Allah, dengan kesediaan menanggalkan segala sesuatu potensi diri dan milik yang dianggap agung selama ini. Jadi, pergi haji ke Mekkah tidak sekedar karena mampu secara dhahir.
Untuk lebih gamblangnya saya nukilkan transkrip ceramah Bapak Muhammad Zuhri tentang napak tilas Ibrahim bahwa tidak ada artinya segala potensi manusia ketika berhadapan dengan Amrullan. Tiga malam berturut-turut Ibrahim bermimpi disuruh membantai anaknya sendiri. Inilah masalah manusia. Manusia memiliki tiga kekuatan besar dari Rabb al¬ 'Alami n:

1)Ketajaman akal
2)Kelembutan moral
3)Kekuatan fisik.

Ketiga kekuatan itu tidak sanggup menerima Amr Allah yang berupa "sembelihlah anakmu". Akal mana yang membenarkan seorang ayah menyembelih anak yang dicintai? Moral mana yang merelakan seorang ayah membantai anak yang dicintai? "Salah!", kata akal. "Itu kekejian yang luar biasa," kata moral. Begitu pula kekuatan fisik; tangan akan gemetar tak sanggup mengangkat pedang atau mengayunkan kapak bila untuk membunuh anak yang dicintai. Tetapi, itulah Amr Allah. Tiga kekuatan manusia hancur menghadapi Amr Allah. Saat itu, bila seseorang berbuat sesuatu (merespon Amr Allah), bukan dia yang berbuat sebab dia hakikatnya telah mati; telah meninggalkan akalnya, moralnya dan fisiknya.
Demikianlah perintah dari Yang Mutlak. Jika Amr Allah hadir pada seseorang, Ia disebut "mengalami kiamat" (kiamat sugra). Itulah saat perubahan besar pada diri manusia. Bukan kiamat kubra (hancurnya alam semesta) melainkan kiamat kehidupan seseorang yang berdimensi waktu. Saat matinya kehidupan individu dan lahirnya kehidupan individu baru. Bukan kehidupan fisikal, bukan kehidupan intelektual dan bukan kehidupan moral tetapi kehidupan spiritual; kehidupan AbdAllah, lahir sebagai Ahl Allah (keluarga Allah).

"Wahai manusia, bertagwalah kepada Tuhann-ur. Sesungguhnya goncangan hadirnya sa'at (kiamat sugra, hancurnya individu kecil menjadi individu besar, Abd Allah) adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat." (QS. AI-Haj: 1)

Lalu bagaimana konsep diatas implementasinya dalam HMI supaya jawaban dari pertanyaan what's next diatas bisa applicable?. Ajaklah para kader dari lingkar yang paling kecil dari yang ia genggam. Ini mungkin generative, tetapi tidak apa-apa guna rcadmap-nya lebih jelas. Genggaman lingkar pertama yang dipunyai kader adalah dirinya dengan waktu, uang/harta dan tenaga yang Ia punyai. Tawarkan sebuah pencerahan, ketika jamaah membutuhkannya apa Ia rela melepaskannya. Berikan sebuah pemahaman, menurut Ia Tuhan ada dimana, sedang ada didirinya sendiri atau di jamaah yang sedang butuh. Berikan kebebasan sepenuhnya kepadanya untuk mengambil keputusan, dimakan sendiri atau dIaumbangkan, sesuai keyakinannya tentang posIai Tuhan ada dimana tadi.
Lingkar kedua adalah dirinya antara HMI dan Kampus. Nah, ketika lingkar kedua ini bisa dilampaui biasanya Ia akan diuji oleh lingkar ketiga yakni antara dirinya dengan kuliah dan orang tua. Tetap suntikkan jiwa saja'ah, tangguh dalam mengambil keputusan karena berani menanggung segala resikonya. Pahamkan tentang amr. Percayalah orang bodoh yang pemberani bakal mampu menyalip orang pintar yang penakut. Selama ada kemantapan bahwa keputusannya karena keyakinannya akan Tuhan, pasti ada jalan keluar. Tuh, benarkan do small dulu walau dari pemikiran yang big. Dan ibda' binafsi.
Saudara.. ujung dari Gerakan Intelektual tetaplah spiritual. Yang melatari gerakan kitapun relegiusitas. Kita, HMI, tidak bisa hanya berhenti pada idealIame, idealIame harus diantarkan pada yang lebih tinggi. IdealIa mungkin sudah tidak akan terjebak pada keruangan, tapi dia pasti tidak akan lepas dari kewaktuan. Sedang spriritual sudahlah diluar ruang dan waktu karena spirit kita, ruh kita tidaklah berada dalam wadak fisik kita, Ia berada di luar ruang dan waktu. Wallaahu a'lam.



selengkapnya.....

08 April 2009

Gerakan Kemandirian Bangsa Menuju Masyarakat Berkeadilan

(Untuk TOR selengkapnya dapat di download di TOR Kongres HMI Ke-27)


Satu dekade lebih selepas reformasi, Indonesia belum juga menemukan kebangkitannya sebagaimana yang diharapkan banyak orang hingga hari ini. Meskipun pergantian Presiden telah berulangkali terjadi sejak 1999, namun harapan kebangkitan itu belum kunjung tercapai. Masih terekam jelas dalam ingatan kita, bagaimana berbagai pihak mengusahakan sepanjang tahun 2008 sebagai tahun kebangkitan dalam rangka merayakan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, namun nyatanya gelagat kebangkitan itu tidak kunjung berhasil diwujudkan.

Bila secara obyektif memahami situasi saat ini, malah berbalik arah, bila semangat perubahan setelah reformasi memunculkan gairah menuju tatanan masyarakat lebih baik, sekarang ini setelah satu dekade lebih reformasi sebagian masyarakat dalam nalar kesadarannya muncul semacam syndrome terhadap perubahan bangsa ini. Hal ini bisa kita buktikan dari pesimisnya masyarakat terhadap proses politik yang ada, akan melahirkan orang – orang yang benar – benar membela dan memperjuangkan hak – hak mereka, kesulitan hidup makin terasa membuat mereka tidak mampu bermimpi tentang masa depan. Artinya harus kita sadari bersama bahwa ada kesalahan dalam mengelola bangsa ini, mengapa perubahan diimpikan tidak kunjung dirasakan masyarakat

Indikasi kejenuhan masyarakat terhadap situasi yang ada saat ini, bila dipicu terus menerus akan membangkitkan pesimisme masyarakat yang pada akhirnya penghargaan terhadap nilai sudah tidak ada lagi, membangun visi perubahan bagi bangsa kedepan hanya lipstick penghibur dalam mencapai tangga kekuasaan dan kepentingan kelompok. Munculnya pesimisme akibat kejenuhan masyarakat pada titik tertentu akan mentransformasi menjadi sindrom social dan bila kondisi ini terus dibiarkan akan berkembang menjadi depresi social yang akan membangkitkan ledakan emosional masyarakat secara kolektif untuk tidak percaya terhadap apapun prosesi yang terjadi. Ekspresi dari ledakan emosional ini akan bisa dilihat dari munculnya berbagai kerusuhan serta tindakan kekerasan sebagian kelompok masyarakat. Situasi inilah berkontribusi besar membongkar seluruh tatanan nilai luhur dalam masyarakat, digantikan oleh nilai yang akan membawa masyarakat pada kehancuran.

Bercermin dari persoalan diatas, apa sesungguhnya menjadi harapan bersama ditengah kejenuhan masyarakat mengharapkan perubahan lebih baik bagi kehidupan mereka. Persoalaan utama apakah bangsa ini yang harus segera diselesaikan demi tercapainya cita – cita kebangkitan peradaban Indonesia dalam seluruh tatanan kehidupan. HMI sebagai salah satu entitas bangsa ini, bagaimana melihat persoalan ini dan peran apa yang memungkinkan dilakukan dalam mendorong proses perubahan bangsa kedepan.

Tantangan dan Peluang

Tantangan mendasar bagi proses kebangkitan Indonesia berasal dari internal. Tantangan itu meliputi, pertama ketergantungan terhadap asing yang terus dipelihara oleh sekelompok elit politik demi kelanggengan kekuasaan mereka. Hingga lebih dari satu dekade pasca reformasi, watak ketergantungan haluan politik Indonesia kepada Barat dan negara-negara donor, belum dapat dibersihkan sepenuhnya. Formasi kabinet yang mencerminkan keterwakilan kepentingan Barat dan negara-negara donor terlihat jelas, terutama di sektor keuangan. Padahal kebangkitan sebuah bangsa hanya dapat dicapai melalui kekuatannya sendiri bukan meminta bantuan dari pihak asing. Sebenarnya, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk bangkit. Di tengah krisis sistem kapitalisme global, berbagai negara kembali sibuk mengatasi dampak krisis tersebut terhadap situasi domestik negaranya masing-masing. Hal ini membuat negara-negara imperialis memalingkan perhatiannya sejenak dari urusan luar negerinya. Pada saat yang sama, poros-poros kekuatan baru internasional telah bergeliat bersaing dengan kekuatan lama yang dipimpin Amerika Serikat. Kekuatan baru itu terdiri atas negara-negara sosialis Amerika Latin, Rusia, China, India, Iran, Arab Saudi, Uni Eropa, dan Uni Afrika. Tumbuhnya kekuatan baru tersebut tentu saja dapat mereduksi hegemoni dari negara imperialis lama seperti AS, Jepang, Inggris, Prancis, dan Jerman terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kedua kesenjangan begitu besar terjadi dalam masyarakat, ada berbagai kesenjangan yang begitu memprihatinkan dalam masyarakat kita diantaranya kesenjangan ekonomi membangun jurang pemisah antara kaya dan miskin, dari 230 juta penduduk indonesia sumber dan akses ekonomi hanya dikuasai dan berada ditangan lebih kurang 200 konglomerat, lantas gimana nasib masyarakat lainnya. Kesenjangan politik terjadi akibat miskomunikasi antara elit yang terus berprilaku seperti homo speakaholic ( manusia gila bicara ) tanpa bekerja dengan masyarakat, sistem politik selama ini memberikan peluang seluas – luasnya terjadi manipulasi secara konstitusional. Kesenjangan lainya adalah kesenjangan budaya yang terjadi akibat pengaruh modernisasi terhadap kebudayaan Indonesia. Terakhir kesenjangan intelektual antara perkembangan ilmu pengetahuan di institusi pendidikan dengan fakta obyektif di masyarakat, hal ini melahirkan para elit kaum intelektual.

Disamping berbagai tantangan kebangkitan diatas ada fakta lain yaitu perkembangan gerakan politik Islam global dan jihad internasional turut juga mengacaukan kelancaran dan kemapanan imperialisme Barat terhadap negara-negara berpenduduk Muslim. Kedua situasi yang berlangsung serentak tersebut (bangkitnya kekuatan-kekuatan baru dan semarak gerakan politik Islam global) merupakan kondisi yang menguntungkan bagi Indonesia untuk bangkit. Satu-satunya faktor penghambat untuk bangkit hari ini cuma berasal dari elemen internal bangsa sendiri yaitu golongan elit politik dan ekonomi yang meletakkan diri sebagai perpanjangan tangan kekuasaan negara-negara imperialis. Golongan elit perpanjangan tangan imperialis tersebut senantiasa berjuang mempertahankan ketergantungan Indonesia kepada negara-negara imperialis atas nama kebebasan dan kerjasama antar bangsa.

Umat Islam Indonesia dan kebangkitan global
Disaat dunia global mengalami guncangan hebat akibat berbagai krisis, diperlukan satu solusi dan peran dari berbagai kelompok guna memberikan kontribusi membangun peradaban umat manusia kedepan. Salah satu entitas terpenting dalam bagian kemajuan kedepan adalah umaat Islam, dimana dari segi jumlah umat Islam adalah mayoritas dan juga memiliki pandangan ajaran yang lengkap serta komprehensif dalam melihat perubahan, sudah sewajarlah saat ini umat Islam mengambil peran besar dalam mewujudkan cita – cita luhur keuniversalan Islam membangun peradaban Islam.
Apa hubungannya dengan Indonesia tentang peran umat Islam secara global diatas. Indonesia adalah Negara berpenduduk muslim terbesar didunia, sangat strategis mengambil peran dalam rangka menghimpun kekuatan umat Islam secara global guna kebangkitan Islam, menyelamatkan serta memberikan solusi alternative terhadap berbagai krisis global dewasa ini adalah menjadi salah satu tugas penting. Sudah saatnya visi global umat Islam Indonesia perlu dikembangkan dan menjadi agenda penting dalam rangka menyongsong kebangkitan peradaban Islam untuk kemaslahatan umat manusia.
Namun untuk menuju pengembangan visi global umat Islam di Indonesia bukanlah pekerjaan mudah, ada berbagai persoalan diinternal umat Islam Indonesia sendiri yang harus terselesaikan, diantaranya adalah terpolarisasinya berbagai kelompok umat Islam dalam kepentingan politik sesaat, pengembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru mengalami stagnasi, menyebabkan ketergantungan berlebihan pada dunia barat. sudah saatnya berbagai kelompok, terutama generasi muda Islam memiliki satu pandangan yang sama terhadap persoalaan utama dihadapi masyarakat. Menggali kembali sumber inspirasi yaitu Alqur’an dan Hadist sebagai pegangan dalam menjawab tantangan zaman kedepan.

Transformasi gerakan HMI
Sebagaimana kita sadari bersama, sebuah gerakan akan bertahan kalau mampu melewati berbagai fluktuasi perkembangan zaman, dengan tantangan dan kebutuhannya masing – masing. Kemampuan beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman itulah salah satu cara mengukur sebuah gerakan memiliki perangkat nilai dan konsep – konsep teknis operasional lainnya sebagai modal menjalankan peran. Factor lain mempengaruhi sebuah gerakan mampu beradaptasi ditengah kecepatan perubahan zaman adalah kemampuan organisasi tersebut membaca kebutuhan zaman dan memberikan ruang terhadap kadernya mengembangkan berbagai potensi dalam rangka menjawab tantangan masa depan.
Pertanyaannya bagaimana HMI melihat dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman kedepan. Sekilas mengurai perjalanan HMI dari mulai berdiri sampai sekarang, bias dikatakan telah melintasi berbagai perubahan zaman. pertama mulai dari masa awal kemerdekaan HMI memberikan kontribusi mengkader para generasi muda pelanjut perjuangan negeri ini, tantangan perjuangan bentuk fisik saat itu tidak dapat dihindari. Kedua Masa selanjutnya sekitar awal 60-an HMI lebih banyak melahirkan para teknokrat dan intelektual, ini sesuai dengan kebutuhan dari perkembangan zaman saat itu. Ketiga sekitar akhir 70-an gelombang islamisasi di dunia Islam turut mempengaruhi gerakan HMI yang ingin menampilkan Islam tidak hanya secara konsep tapi bias diterjemahkan dalam kehidupan sehari – hari, indikasi ini adanya keinginan menambah materi keislaman di traning – traning formal HMI. Keempat pada era 80-an sampai reformasi dibawah rezim orde baru menjalankan kebijakan tangan besi lewat azas tunggalnya, akibat dari tekanan besar dari rezim, juga ikut merubah konstelasi gerakan HMI, dimana titik klimaksnya terjadinya perpecahan HMI menjadi dua, yang mengikuti keinginan pemerintah untuk merubah azas disebut HMI DIPO, sementara kelompok mempertahankan Islam sebagai azas organisasi sering disebut HMI MPO. HMI yang mempertahankan Islam sebagai azas mendapat tekanan dari pemerintah, akibatnya terjadi pengentalan idiologis gerakan dan membangun blok oposisi terhadap rezim yang berkuasa. Fase ini sangat jelas, bahwa menjadi musuh bersamanya adalah rezim orde baru. Kelima masa setelah reformasi yang sudah berlangsung lebih sepuluh tahun, dimana situasinya sudah sangat berubah dari masa – masa sebelumnya, arus demokratisasi yang memberikan kebebasan seluruh elemen bangsa berperan aktif mengaktualisasikan ide gagasan, konsep sampai peran – perannya dalam kehidupan, memberikan makna berarti bagi kemajuan dan perbaikan kondisi bangsa kedepan. Sisi lain perkembangan arus informasi tumbuh subur mampu merubah pola hubungan dan beragam kebutuhan organisasi maupun orang per orang. Lantas apa yang dilakukan HMI terkait mereposisi gerakannya ditengah arus perubahan yang begitu cepat, bagaimana HMI menjawab kebutuhan zaman yang berkembang saat ini.

Gerakan Kemandirian
HMI meyakini, kebangkitan bangsa hanya bisa terjadi apabila masyarakat dan negara menggenggam kemandiriannya secara optimal. Selama ini yang terjadi, ambisi kebangkitan bangsa telah ditiupkan lewat berbagai media, akan tetapi masalah kemandirian diabaikan sama sekali. Padahal antara kebangkitan dan kemandirian saling berkaitan. Oleh karena itu di dalam rangka mempercepat proses kebangkitan bangsa tersebut, HMI secara sadar mengambil peranan dalam bentuk gerakan kemandirian yang menyeluruh. Gerakan kemandirian tidak saja meliputi aspek politik, ekonomi dan budaya, tetapi juga mencakup kemandirian intelektual dan ilmu pengetahuan.

HMI akan senantiasa menyebarkan spirit kemandirian dan mengarusutamakan sikap kemandirian di dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Bentuk-bentuk gerakan kemandirian oleh HMI, nantinya disesuaikan dengan situasi menurut tantangan masing-masing cabang, dimana semangat kaderisasi berbasis pengembangan potensi kader dan organsisasi yang memiliki visi keislaman menjadi semangat umumnya. tujuannya jelas untuk merakit dan memperluas basis masyarakat pencita-cita kemandirian yang menyeluruh. Sebab HMI menyadari kemandirian merupakan refleksi dari doktrin tauhid yang diimani oleh anggota-anggota HMI maupun kaum Muslim Indonesia. Jadi amat jelas, kemandirian selain didorong oleh ajaran Islam, juga merupakan tradisi perjuangan bangsa Indonesia di dalam mencapai kemerdekaan dan martabat bangsanya.

HMI akan memainkan peranan membangkitkan potensi kemandirian kaum Muslim Indonesia, kemandirian politik dan intelektual di lingkungan akademik di mana HMI banyak berkiprah di dalamnya untuk mempercepat proses kebangkitan bangsa. Sebab dengan kemandirian yang menyeluruh dan lengkaplah, bangsa ini bisa bangkit meraih martabat dan harga dirinya. Dan bangkitnya Indonesia dapat membuka jalan bagi kepemimpinan global Indonesia.

Pada Kongres HMI ke 27 ini kita semua menyadari banyaknya berbagai tuntutan maupun arus perubahan mengelilingi HMI untuk segera direspon dalam bentuk menyusun pola strategi gerakan adalah bukan pekerjaan mudah dan instant, namun membutuhkan refleksi mendalam tentang perjalanan perjuangan HMI dan tantangan masa depan. Sebagai bentuk ikhtiar dari seluruh pembacaan maupun evaluasi organisasi, pada kongres HMI ke 27 akan mengambil tema “ gerakan kemandirian bangsa menuju masyarakat berkeadilan “.Keyakinan bahwa strategi gerakan kemandirian merupakan solusi yang tepat di dalam rangka mempercepat proses kebangkitan bangsa secara mendasar dan menyeluruh.

selengkapnya.....

12 Desember 2008

Agenda PB HMI

PB HMI Akan Gelar Pleno III

Jakarta, (Inbagteng Cyber Media)

Memasuki semester ketiga perjalanan kepengurusan PB HMI, maka dalam waktu dekat akan menggelar Pleno III yang akan dilangsungkan di Jakarta pada (26-28/12). Pleno III kali ini dikemas dalam konsep Paket Kegiatan Akhir Semester Himpunan Mahasiswa Islam. Rangkaian kegiatan terdiri dari Muktamar Pemikiran & Kepemimpinan Muda Indonesia, Rapat Pimpinan Cabang dan agenda utama yaitu Pleno III. Kegiatan tersebut sedianya akan dilaksanakan di Jakarta Media Center (JMC), Jakarta Pusat dan Graha Wisama Ragunan, Jakarta Selatan. Pleno III mengambil tema “menyongsong tamaddun indonesia baru dan maju”.

Muktamar Pemikiran dan Kepemimpinan
Terkait muktamar pemikiran tersebut, tema yang diusung adalah “menyongsong Indonesia muda dan progresif”. Sedangkan para undangan yang akan hadir adalah seluruh elemen gerakan, diantaranya KAMMI, Gema Pembebasan, LMND, PMII, IPPNU, IMM, PII, PMKRI, KNPI, GMKI, FMN, GPI, GPMI, PI. Di samping itu, narasumber yang akan hadir, antara lain Akbar Tanjung, Adyaksa Dault, Rizal Ramli, Budiman Sujatmiko, Priyo Budi Santoso, Anies Baswedan, Cahyo Pamungkas, Rama Pratama, dan seluruh ketua-ketua OKP.


Untuk memahami secara lebih jelas, silahkan baca TOR dibawah ini
Atau bisa juga di download di weblog ini, pada menu download.


Term Of Reference
PAKET KEGIATAN AKHIR SEMESTER PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
“MENYONGSONG TAMADDUN INDONESIA BARU DAN MAJU”


Dasar Pemikiran

Satu dekade setelah reformasi, Indonesia mengalami perubahan diberbagai bidang. Perubahan tersebut tidak saja terjadi pada level kepemimpinan dan kelembagaan, tetapi pada batas-batas tertentu, perubahan itu juga melanda struktur politik, sosial, ekonomi dan budaya. Hal ini berarti, perubahan telah terjadi di level peradaban. Namun sayangnya, perubahan itu tidak terpandu dengan tegas oleh seperangkat nilai-nilai ideal yang diyakini, dan kosong dari cetak biru peradaban Indonesia masa mendatang. Proses perubahan lebih tampak dibiarkan berjalan begitu saja dan diserahkan kepada mekanisme persaingan bebas antar kekuatan masyarakat untuk menentukan peradaban Indonesia masa mendatang. Kalaupun ada yang dianggap panduan, lebih nyata berfungsi sebagai kerangka nilai saja, yaitu nilai-nilai kebebasan individu yang tercakup dalam doktrin HAM dan pada batas-batas tertentu juga prinsip-prinsip ideal yang terdapat dalam Pancasila.

Akan tetapi yang dibutuhkan Indonesia di dalam membentuk peradaban (tamaddun), tidak cukup hanya kerangka etik saja, tetapi juga lengkap dengan cetak biru. Oleh karena itu HMI memandang sudah saatnya Indonesia memiliki cetak biru peradabannya yang tegas untuk menjadi panduan di dalam rangka menyongsong Indonesia masa depan. Tentu saja HMI terpanggil memberikan kontribusi pemikiran dan aksi di dalam rangka mewujudkan tujuan mulia tersebut.

Melalui momentum semester ketiga PB HMI kali ini, akan diusahakan pemasyarakatan urgensi tamaddun Indonesia baru dan maju sebagai jawaban HMI terhadap situasi Indonesia kekinian. Pemasyarakatan ini tidak saja dilangsungkan di tengah-tengah komunitas Himpunan tetapi juga masyarakat pada umumnya dan lebih jauh akan diwujudkan dalam gerakan kongkrit berupa penggalangan barisan menyongsong tamaddun Indonesia baru dan maju.

Proyeksi tamaddun Indonesia baru dan maju setidaknya mencakup empat karakter dasar: berpola hidup religius, steril dari materialisme dan neoliberalisme, transformatif yang berangkat dari akar-akar budaya Islam Indonesia, dan berdemokrasi yang konvergen dengan semangat Islam yang menjadi jiwa masyarakat Indonesia.

Adapun model kegiatan menyambut semester ketiga PB HMI, meliputi kegiatan yang bersifat eksternal dan internal. Kegiatan tersebut terdiri atas Muktamar Pemikiran dan Kepemimpinan Kaum Muda Indonesia, Rapat Pimpinan Cabang, dan Rapat Pleno III PB HMI. Lebih detail mengenai maksud satu per satu kegiatan tersebut dapat disimak seperti di bawah.

I. Muktamar Pemikiran dan Kepemimpinan Muda Indonesia

“ Menyongsong Indonesia Muda dan Progresif “

Satu dekade setelah reformasi, Indonesia dihadapkan dengan berbagai tantangan pelik. Ekspetasi yang begitu tinggi terhadap reformasi, justru berakhir dengan anti klimaks. Bentuk klimaks itu di antaranya terkonsolidasinya kekuatan-kekuatan lama yang pada hakikatnya tidak mendukung reformasi. Kekuatan-kekuatan inilah yang kemudian menyimpangkan proses jalannya reformasi. Pada saat yang sama, kekuatan pasar semakin signifikan mengarahkan jalannya sejarah.

Dengan situasi semacam itu, belakangan timbulah aspirasi yang mendukung terbentuknya kepemimpinan dari kalangan muda. Aspirasi ini sesungguhnya merupakan bentuk cetusan ketidakpercayaan kepada pemimpin-pemimpin lama yang bercokol dewasa ini dan bentuk kerinduan terhadap antusiasme menyongsong masa depan Indonesia yang sempat hadir di awal-awal reformasi. Maka belakangan ini menguatlah isu perlunya kepemimpinan muda dalam rangka memecahkan kebuntuan sejarah yang memerangkap perjalanan sejarah Indonesia kontemporer.

Akan tetapi, discourse kepemimpinan muda memang masih belum terlalu matang. Kepemimpinan muda lebih tampak sebagai kontestasi usia ketimbang kontestasi gagasan dan tesis untuk Indonesia masa depan. Untuk itulah, HMI terpanggil mengisi dan melengkapi urgensi discourse kepemimpinan muda dengan membawanya kepada kontestasi tesis dan gagasan menuju Indonesia masa depan sebagai bagian dari kontribusi pemikiran dan aksi dari kalangan muda. Upaya ini dibingkai dalam satu kegiatan bernama Muktamar Pemikiran dan Kepemimpinan Muda Indonesia.

Muktamar ini bertujuan untuk mengumpulkan gagasan cemerlang dari kaum muda dalam rangka memberikan sumbangan pemikiran dan kepemimpinan Indonesia di masa mendatang setelah Indonesia dilelahkan dengan kebuntuan reformasi dan hilangnya spirit di dalam mewujudkan perubahan yang lebih mendasar. Target acara ini adalah resolusi yang kemudian dapat disebarkan ke berbagai pihak, terutama pihak-pihak pengambil keputusan.

Konsep Acara:
Setiap narasumber menyiapkan kertas kerja sesuai tema yang diminta panitia. Tema mencakup ekonomi, sosial, politik, budaya, dan tatanan hukum Indonesia masa depan.

Tempat dan Waktu:
Jakarta Media Center (JMC) Jakarta Pusat, 26 Desember 2008
Pukul 08.30 – 21.30 WIB

Bentuk Acara:
Ceramah, Diskusi dan Perumusan Resolusi

Peserta:
HMI, KAMMI, Gema Pembebasan, LMND, PMII, IPPNU, IMM, PII, PMKRI, KNPI, GMKI, FMN, GPI, GPMI, PI, dll


Narasumber:
Akbar Tanjung, Adyaksa Dault, Rizal Ramli, Budiman Sujatmiko, Priyo Budi Santoso, Anies Baswedan, Cahyo Pamungkas, Rama Pratama, dan seluruh ketua-ketua OKP.

II. Rapat Pimpinan Cabang (Rapimcab)

Rapimcab ini bertujuan mengumpulkan dan mendengar aspirasi dan masukan dari pimpinan-pimpinan cabang HMI dari seluruh Indonesia dalam rangka membenahi dan memajukan peranan HMI di dalam mewujudkan tamaddun Indonesia baru dan maju.

Tempat dan Waktu:

Graha Wisama Ragunan, Jakarta Selatan, 27 Desember 2008
Pukul 08.00-16.30 WIB

Peserta:
PB HMI, Badko, dan pimpinan-pimpinan cabang

Bentuk Acara:
• Sesi Laporan Perkembangan Cabang-cabang
08.00-12.00 WIB
• Sesi diskusi dan tanya jawab dengan PB HMI
13.00-16.30 WIB

III. Rapat Pleno III PB HMI

Rapat pleno III PB HMI bertujuan mengevaluasi kinierja PB HMI satu semester sebelumnya, merumuskan program lanjutan, dan menyegarkan kembali susunan kepengurusan.

Waktu dan Tempat:
Graha Wisama Ragunan, Jakarta Selatan, 27-28 Desember 2008
Pukul 19.30 WIB (27 Desember) – 24.00 WIB (28 Desember)

Peserta:
Seluruh PB HMI yang masih tercatat aktif

Bentuk Acara:
• Sesi laporan dan evaluasi perkembangan komisi-komisi dan kesekretariatan
19.30-24.00 WIB
• Sambungan sesi pertama
08.00-10.00 WIB
• Penyusunan program kerja
10.00-20.00 WIB
• Reshuffle dan staffing
20.00-21.00 WIB
• Pengumuman hasil-hasil Pleno
22.00 WIB - selesai

selengkapnya.....

16 Agustus 2008

Opini

Islah HMI : Keniscayaan Taubat Bagi HMI Dipo

Imam Nawawi*

Sebagai kader yang dibesarkan HMI MPO saya memberanikan diri untuk menggoreskan pena dan sedikit memberikan pandangan tentang Islah HMI. Meski mungkin nanti ada hal-hal yang bersifat kontroversial maka kiranya teguran dan sapaan kelembutan agar hati ini kian mantap dengan kebenaran tidak terhambat karena kebodohan ini. Tentu hal ini sangat diharapkan akan hadir dari mereka yang benar-benar komitmen dengan kebenaran. Akan tetapi kebenaran tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk mengetahui. Kebenaran itu akan tampak dan selalu akan menerangi jiwa-jiwa yang memang secara fitrah mendambakan satu kedamaian dan ketentraman dengan tegaknya nilai-nilai kebenaran dan terejawantahkannya nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Erat hubungannya dengan kebenaran ini adalah kasus yang Allah perlihatkan melalui hamba-Nya yakni Bilal Bin Rabbah. Hamba sahaya ini tidak perlu menunggu sempurnanya al-Qur’an diturunkan untuk mengakui kebenaran Islam sebagai jalan hidup.


Hal ini menandakan bahwa kebenaran itu adalah satu perkara yang mudah untuk dimengerti. Hanya saja secara tidak sadar adanya rasa gengsi kadang kala menjadikan nurani harus rela mati meskipun lubuk hati paling dalam mengetahui kebenaran itu sendiri. Itulah mengapa selain Bilal, di sana juga terdapat Abu Jahal dan Abu Lahab sang pendusta hati nurani yang telah menyesatkan banyak orang.

Adanya nama Bilal menjadi bukti bahwa kebenaran itu ada. Dan eksisnya Abu Lahab juga tanda bahwa pembela kebathilan juga perkasa. Namun bagaimanapun kebenaran itu hanya satu. Klaim kebenaran hanya satu ini seringkali kita dengarkan dengan banyaknya pemberitaan. Dari sekian kalimat yang menunjukkan satu peristiwa atau berita, kemungkinannya hanya satu yang benar atau salah semua. Kemungkinan benar semua adalah satu hal yang sangat tidak mungkin terjadi.

Kesalahan dan kekhilafan adalah satu hal yang di-ma’fu dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun siapapun takkan pernah secara suka rela terus-menerus berada dalam kesalahan, kecuali karena ketidaktahuan atau kelupaannya. Terkait dengan hal ini sebagai salah satu gerakan Islam kontemporer, HMI diperhadapkan dengan satu kondisi yang mengharuskannya memilih tetap berada pada idealismenya atau eksis dengan menanggalkan idealismenya tersebut, yakni menerima atau menolak Pancasila sebagai azas organisasi menggantikan azas Islam yang selama ini menjadi ruh kelahiran dan eksistensi HMI di Indonesia.

Pemberlakuan Pancasila sebagai azas tunggal ternyata menjadi manuver politik yang bisa dibilang cukup berhasil dalam melanggengkan status quo pemerintahan orde baru. Setidaknya dengan cara tersebut pemerintah telah berhasil memecah belah persatuan dan soliditas kader-kader HMI yang sejak itu kemudian muncullah HMI Dipo dan HMI MPO. Di tempat lain saudara kita di PII juga mengalami “pembekukan” karena menolak Pancasila sebagai azas organisasinya.

Apa Dipo dan apa MPO tidak sulit untuk membedakannya. Dipo menerima Pancasila sebagai azas organisasi dan MPO adalah pihak yang menolak Pancasila sebagai azas organisasi. Siapa Dipo juga tidak sulit bagi kita untuk menentukannya. Nama besar Nur Cholis Majid dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia adalah sosok yang banyak memberikan warna terhadap eksistensi HMI Dipo hingga detik ini. Tokoh yang dibesarkan oleh media ini telah merubah segenap elemen fundamen HMI selama ini dengan ide dan pemikirannya yang sebenarnya merupakan produk asongan dari budaya Barat yang sangat “kumuh”. Bahkan Adian Husaini dalam satu bukunya menyatakan bahwa Nur Cholis Majid adalah tokoh sekularisme di Indonesia.

Akhirnya HMI Dipo tidak lagi menjadi gerakan mahasiswa Islam murni. Dipo kemudian secara sadar menerima Pancasila untuk selanjutnya berkelindan dengan pemerintahan orba yang tiranik-koruptif saat itu. Hingga saat ini alumni yang tampil mengisi kursi jabatan strategis di pemerintahan tidak lain adalah mereka yang “pro” dengan pemerintahan orde baru saat itu.

Oleh karena itu peristiwa telah berlangsungnya Islah pada kongres XXVI HMI di Palembang adalah satu peristiwa yang perlu kita cermati lebih baik lagi. Khususnya dari kader-kader MPO. Ishlah adalah satu hal yang sangat baik dan bahkan dianjurkan oleh ajaran Islam. Namun situasi dan kondisi saat ini mengharuskan semua kader HMI MPO untuk tidak tergesa-gesa bergembira dan segera mengambil keputusan. Apalagi dalam realitanya islah tersebut diklaim tidak melalui prosedur konstitusi yang dapat diterima oleh seluruh kader di MPO. Hal ini terbukti dengan pernyataan sikap Badko HMI Inbagteng.

Saya sendiri sebagai salah satu fungsionaris pengurus Cabang Surabaya juga sangat kaget dengan pemberitaan ishlah HMI di beberapa media massa. Hingga saat ini kebingungan di kalangan kader muda MPO masih belum terpecahkan khususnya di Cabang Surabaya. Oleh karena itu adalah satu tindakan yang sangat bijaksana jika MSO segera menindaklanjuti pernyataan sikap pengurus Badko Inbagteng dan mengakomodir aspirasi cabang-cabang untuk melakukan Kongres Luar Biasa. Karena kata yang tepat untuk kembalinya kekuatan HMI pada arti yang sesungguhnya bukanlah Ishlah tapi TAUBAT yang ditandai dengan meleburnya Dipo secara suka rela dan secara sadar menerima aturan konstitusi yang ada sebagai manhaj dan dasar gerakan membangun dan menuju Islam jaya. Khususnya Islam sebagai azas gerakan.

Sejarah telah membuktikan bahwa MPO adalah pihak yang tidak mengenal kompromi dengan segala bentuk kebathilan. Citra ini harus dipertahankan sekuat tenaga, termasuk di depan bujuk rayu para peminat kepentingan pribadi yang ingin menjadikan HMI sebagai alat untuk mewujudkan interes hewaninya. Apalagi hanya dengan sekedar satu kata “Ishlah”. Karena sudah sangat jelas mana yang salah dan mana yang benar. Jadi jangan ragu untuk bertahan di atas kebenaran ini. Jika Bilal saja rela ditindih batu besar di tengah terik mentari karena mempertahankan azas hidupnya (Islam) mengapa kita harus mati kutu di depan ancaman penguasa yang dholim (orde baru)? Tidak! MPO tidak boleh ishlah, apalagi jika harus merumuskan kembali AD/ART bersama mereka yang menerima Pancasila sebagai azas organisasinya. Yang harus terjadi adalah Dipo bertaubat dan secara suka rela melebur dan bersama-sama menegakkan kebenaran dan keadilan di atas azas Islam. Ishlah yang demikian adalah impian seluruh pecinta kebenaran.

* Pengurus HMI MPO Cabang Surabaya

selengkapnya.....
Designed by - alexis 2008 | ICM